<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617</id><updated>2011-04-21T20:42:07.195-07:00</updated><title type='text'>maxetmoi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-112134305558422030</id><published>2005-07-14T05:09:00.000-07:00</published><updated>2005-07-14T05:10:55.586-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Selamat Datang Di Planet Luna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The roller coaster story of one woman’s quest for love, lust and adventure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semua orang pasti punya standar soal pasangan hidup. Masalahnya, terkadang yang ada di depan mata tak selalu sama persis dengan yang ada di dalam bayangan.  Aku masih ingat, saat SMP dulu, aku selalu ingin punya pacar yang berpostur tinggi dan jago basket. Setelah SMU, aku hanya mau kencan dengan cowok yang tak hanya mengandalkan fisik, tapi juga intelektualitas. Saat kuliah, aku ingin semuanya. Dan kini, setelah semua masa-masa kulalui, pria seperti apa sebetulnya yang ingin aku pilih? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis&lt;br /&gt; Entah kenapa, sepulang kantor, aku ingin sendirian saja. Rasanya tak ada yang lebih menyenangkan selain berbelanja! Meskipun baru saja membeli beberapa stel baju akhir pekan lalu, aku tak gentar untuk pergi ke mal. Yang penting, asal kartu kredit tak jebol dan aku masih bisa tersenyum senang!&lt;br /&gt; Sama halnya dengan urusan pria, berbelanja adalah godaan terbesar yang ada dalam diriku. Aku tak mengarti, kenapa tiba-tiba aku menganalogikan pria dengan belanja. Tapi begitulah yang terjadi. Begitu tiba di rak baju merek kesukaanku, hatiku malah tambah gundah. Di depan mata, ada banyak pilihan yang terpampang. Tapi kenapa aku tak bisa mengambil satu yang paling aku suka? Aku baru tahu, aku tak mau salah pilih!&lt;br /&gt;Aku jadi ingat, tiga bulan lalu, aku bernafsu membeli jaket kulit yang terlihat begitu cantik. Tapi saat aku pakai, aku panas kegerahan. Akhirnya, jaket kulit itu pun teronggok di lemari tanpa pernah kusentuh. Sambil memilih-milih baju, aku berteriak dalam hati, “Do I really want this?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat&lt;br /&gt;Teman-teman di kantor sedang heboh dengan acara Valentine. Erika ribut mau pakai baju apa untuk kencan dengan pacarnya. Di sudut lain, aku mendengar obrolan seru soal lounge paling hip di Jakarta yang menyelenggarakan program spesial. Tak ketinggalan, si bos Mbak Tania sibuk menelepon travel agent untuk memesan tiket berlibur romantis. &lt;br /&gt;Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, aku tak teringat kalau Valentine hampir tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu&lt;br /&gt; Jamie mengajak makan malam. Meskipun dia sudah berkali-kali mengajak kencan, tapi aku masih tak pernah menganggap dia sebagai pacar. Entah mengapa, ada sesuatu yang mengganjal yang membuatku mengatakan kalau aku belum siap untuk membina hubungan baru. &lt;br /&gt; “Kamu sudah pernah ke sini, Luna?” tanya Jamie.&lt;br /&gt; “Sudah, beberapa kali, dengan teman-teman,” kataku pendek. Sepertinya Jamie memperhatikan perubahan air mukaku. “Kamu sedang sakit, ya? Kok tidak seperti biasanya?” tanya Jamie dengan cemas. &lt;br /&gt; “Ah, tidak. Lagi PMS saja,” kataku. Untuk pertama kalinya, aku berterima kasih pada derita bulanan ini karena telah menyelamatkan jiwaku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu&lt;br /&gt; Girls night out bersama Trudy, Rara dan Kev. Meskipun Kev bukan betul-betul perempuan, tapi dia bisa seperti perempuan, seperti halnya malam ini. Pembicaraan pun bergulir pada topik cinta. Trudy bercerita tentang pria kenalan barunya, dan Rara cerita soal pria teman chatting yang terdengar menjanjikan. Dan kini gilranku tiba.&lt;br /&gt;“Ada kabar baru apa soal Jamie?” tanya mereka serempak.&lt;br /&gt;Saat aku bercerita soal perasaaanku yang tak jelas tentang Jamie, mereka langsung heran. Jika dilihat-lihat, jamie sama sekali bukan seperti pria yang selama ini aku impikan. Setidaknya, mendekati standar pria yang aku tetapkan sejak SMP, SMU, dan masa kuliah. &lt;br /&gt;“Lupakan standar, Luna! Lihat, kamu hidup dalam dunia nyata!” kata Kev berapi-api. &lt;br /&gt;“Tapi, bukankah kita masih boleh punya patokan supaya tak salah pilih, bukan?” tanyaku membela diri.&lt;br /&gt;“Lalu, apa ada yang salah dengan Jamie?” tanya Rara.&lt;br /&gt;“Tak ada. Hanya saja, dia tidak exactly seperti yang aku bayangkan sebelumnya,” kataku. &lt;br /&gt;“Ayolah, Luna. Jadi kenapa kamu masih terus ragu-ragu?” kata Trudy.&lt;br /&gt;“Luna, love will find the way,” kata Kev dengan bijaksana.&lt;br /&gt;Kata-kata para sahabatku ini seperti tertiup angin. Mungkin saja mereka benar. Tapi kalau aku sendiri masih ragu-ragu, siapa bisa menyalahkanku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin &lt;br /&gt;Jamie menelepon mengajak nonton. Aku hanya menjawab, “Aduh, maaf, aku sedang deadline, nih!” Padahal sebetulnya aku sedang bersiap pulang kantor karena ada setumpuk DVD baru yang ingin kutonton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menelepon Jamie, dan kami mengobrol berjam-jam di telepon. Hari ini, mendadak aku ingin curhat dengannya. Bukan masalah pribadi, hanya sedikit persoalan kantor yang membuat aku tak bisa berpikir jernih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu&lt;br /&gt;Jamie mengirim SMS, “Mau kujemput pulang kantor? Ngopi, yuk!” SMS itu pun kujawab dengan, “Malam ini aku harus packing. Besok pagi aku berangkat ke Bali dan dapat pesawat pagi.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis&lt;br /&gt;Di Bali, aku tak bisa memikirkan Jamie. Acara pembukaan sebuah butik ini memang menyenangkan, apalagi dilanjutkan dengan after party di sebuah klub yang penuh dengan para selebriti terkenal. Aku kangen Jamie, dan untung saja besok aku sudah kembali ke Jakarta.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat&lt;br /&gt;Jamie tak menelepon atau mengirim SMS. Padahal, aku sudah memberi tahu kalau aku kembali ke Jakarta siang ini.  Artinya, malam ini aku free untuk acara bersuka cita dengannya. Seharian, aku menunggui ponselku dengan harap-harap cemas. Hasilnya nol Akhirnya, malam itu aku habiskan bersama para sahabatku. &lt;br /&gt;Hari Valentine sudah semakin dekat, dan mereka sibuk membicarakannya. Hanya dua hari aku tinggal ke Bali, dan semua orang sudah punya rencana untuk Valentine! Aku menengok sekeliling, mal ini pun penuh dengan berbagai atribut Valentine. Apakah Valentine memang betul-betul hari wajib untuk menyatakan cinta bagi seluruh umat di dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu&lt;br /&gt; Aku merasa, minggu ini memang betul-betul melelahkan. Saat Jamie mengajak pergi, aku tak bisa. Dan saat aku kangen, Jamie tak ada di depan mata. Apa yang terjadi dengan hubungan ini?  Memang betul-betul sebuah misteri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin&lt;br /&gt; Tanggal 14 Februari. Hari ini semua orang menyuarakan cinta. Aku bangun pagi dengan perasaan yang.... aku tahu bagaimana mendefinisikannya. Yang jelas, menjelang tengah malam, Jamie menelepon dan menanyakan apakah malam ini aku bersedia dinner dengannya. Biasanya, aku curiga dengan last minute invitation seperti ini. Jangan-jangan aku hanya sebagai cadangan setelah semua wanita menolaknya.&lt;br /&gt; Sore itu, aku kabur dari kantor lebih cepat dari biasanya. Untung saja Mbak Tania tak melihat, karena ia sendiri juga sedang sibuk dengan acara romantisnya. Jamie menjemputku tepat waktu. Bahkan sedetik pun tak terlewat dari yang dijanjikannya. &lt;br /&gt;Aku tak pernah membayangkan sebuah dinner super romantis dengan cahaya lilin dan violist yang mendatangi satu persatu meja para tamu. Malam ini, aku pun pakai gaun hitam, sama sekali bukan warna kebangsaan para pemuja Valentine. Tapi, malam ini sungguh berarti bagiku. Setelah semingguan merasa lelah dengan permainan yang dimainkan Jamie, aku mendadak ingin menyerahkan seluruh hidupku kepada Jamie. No more games!&lt;br /&gt;Malam berakhir tanpa ada kata cinta terucap dari kami berdua. Jika saja dinner ini terjadi saat masih SMU, mungkin aku sudah protes berat. Tapi malam ini aku merasa bahagia, karena aku merasa sudah dewasa.  Untuk pertama kalinya, aku tak ingat dengan tipe pria idaman. Semua orang punya kesempatan untuk menjadi pria idaman!&lt;br /&gt;Aku hanya teringat kata-kata Kev waktu itu, “Cinta akan menemukan jalannya”. Dan aku percaya itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-112134305558422030?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/112134305558422030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=112134305558422030' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/112134305558422030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/112134305558422030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/07/selamat-datang-di-planet-luna-roller.html' title=''/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-112134293226416502</id><published>2005-07-14T05:08:00.000-07:00</published><updated>2005-07-14T05:08:52.270-07:00</updated><title type='text'>Dating Diary: In Love in Paris</title><content type='html'>In Love in Paris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The roller coaster story of one woman’s quest for love, lust and adventure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di episode lalu, Trudy, sahabatku, tertimpa masalah. Si pacar yang tadinya setia kini memadu cinta dengan wanita lain. Meskipun dengan hati hancur, Trudy terpaksa menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Kini, isu perselingkuhan membuatku was-was. Raul, pacar semata wayangku, sedang melanglang buana. Bagaimana kalau dia bertemu wanita lain saat liburan? Aku berusaha menutup mata. Tapi, pertanyaannya adalah, jika posisinya terbalik, dan aku yang bertemu dengan seseorang saat liburan, apa yang aku lakukan? Hm, aku tak bisa menjawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa&lt;br /&gt;Lokasi: di kantor, agenda terbuka lebar, penuh dengan appointment kerja.&lt;br /&gt; Mbak Tania, chief editor majalah tempat aku bekerja, menghampiri mejaku. “Luna, kamu pergi ke Paris,” katanya sambil menyodorkan undang liputan. Paris! Saat mendengar nama kota itu, mataku langsung terbelalak. Aku tak percaya. Paris selalu terdengar sangat romantis! Mbak Tania menjelaskan tugasku: meliput pesta peluncuran sebuah parfum. Pasti sangat menyenangkan menyenangkan!&lt;br /&gt; Malamnya, aku pun melupakan Raul dan ketakutanku dia akan selingkuh dengan wanita-wanita yang ditemuinya selama liburan. Aku sibuk memikirkan Paris!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, dua minggu berikutnya&lt;br /&gt;Lokasi: Penerbangan Air France 257 ke Paris. Business Class. Seat 10C.  &lt;br /&gt; Perjalanan panjang dimulai. Aku menghela nafas panjang saat pesawat take-off. Di sebelahku, duduk seorang pria bule muda, keren, berambut gelap, bermata biru, dan berpakaian sangat rapi. Wajahnya mengingatkanku kepada Olivier Martinez, tapi sedikit lebih muda. Ia memandang wajahku sambil tersenyum. Oh, no! Terus terang, aku tak suka mengajak mengobrol orang asing yang duduk bersebelahan di pesawat terbang. Tapi, senyumnya tak bisa kutolak. Apalagi ternyata dia adalah seorang eksekutif dari perusahaan kosmetik yang mengundang majalah kami meliput acara ini. &lt;br /&gt; “Nama saya Jean-Philippe. Panggil saja JP,” kata pria itu dalam Bahasa Indonesia yang lancar. &lt;br /&gt; “Saya Luna,” kataku.&lt;br /&gt; “Nama yang bagus,” kata JP.&lt;br /&gt; Tak lama, kami pun terlibat dalam pembicaraan panjang. Jean-Philippe, alias JP, yang berkebangsaan Prancis itu sudah lama bekerja di Jakarta. Saat tahu kalau aku belum pernah ke Paris, ia langsung semangat menceritakan kota kelahirannya itu. “Kamu pasti menyukainya, Luna!” kata JP. Aku jadi makin tak sabar tiba di Paris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu&lt;br /&gt;Lokasi: Cocktail party, Champs-Elysees, Eiffel, Trocadero.&lt;br /&gt; Perjalanan melelahkan sekitar 12 jam pun berakhir. Kami tiba di saat yang tepat. Musim panas di Paris terlihat begitu indah. Kami dijemput dengan sebuah limusin yang mengantar kami ke sebuah hotel di kawasan mewah Champs-Elysees. Begitu sampai, aku sudah disodori setumpuk jadwal. Press conference, acara ramah-tamah, wawancara, gala dinner, dan kunjungan ke apartemen si desainer parfum. “Tenang, kamu pasti punya waktu untuk melihat Paris,” kata JP. &lt;br /&gt; Malam ini, panitia menyelenggarakan cocktail party. Selebriti, model, socialite dan fashion people tumpah ruah di sana. Editor dari seluruh dunia (termasuk aku!) dan juru foto berkumpul menyaksikan kemeriahan pesta. JP yang juga hadir, terlihat jauh lebih keren dari saat pertama aku melihatnya. &lt;br /&gt; Pukul 23.00, pesta berakhir. Beberapa orang terlihat merencanakan untuk melanjutkan pesta di club. Melihat wajahku yang terlalu lelah untuk berpesta, JP menyodorkan pilihan lain yang jauh lebih menarik. Berkeliling kota Paris!&lt;br /&gt; Setelah Arc de Triomph, Pantheon, Notre Dame de Paris, Place de la Concorde, dan Louvre, kami pun tiba Eiffel. Malam ini, menara ini bermandikan cahaya. Di atas kami, hanya ada langit bertabur bintang. Kami berhenti dan menikmati indahnya langit kota Paris dari Trocadero. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin&lt;br /&gt;Lokasi: Gala dinner, Champs-Elysees, Place St. Michel&lt;br /&gt; Aku bertemu dengan JP saat makan pagi. Kami tak sempat bicara banyak, karena sederet acara sudah menungguku. JP tak ada dalam daftar rombongan hari ini. Rupanya, ia harus menghadiri meeting yang lain. “Aku akan menemuimu sebelum gala dinner, OK?” kata JP menatapku dengan mata warna biru lautnya. &lt;br /&gt; Hari yang padat ini berakhir menjelang sore. Saat kembali ke kamar hotel, aku melihat sinyal telepon berkedip-kedip. “Ini JP, temui aku di lobby pukul 5. A toute a l’heure,” kata JP yang meninggalkan pesan di telepon. Aku melirik jam. Pukul 4.45, artinya aku punya 15 menit untuk bersiap-siap. &lt;br /&gt; JP mengajakku minum kopi di sebuah cafe bernuansa Maroko di Champs-Elysees. Ia bercerita banyak tentang dirinya. Meski sudah bersama-sama selama tiga hari, kami tak punya waktu untuk bercerita tentang hidup. Mungkin karena aku terlalu gembira dengan Paris, atau mungkin aku memang tak tertarik dengan sejarah hidupnya?&lt;br /&gt; Malam ini, acara puncak peluncuran parfum berlangsung di Hotel Ritz di Place Vendome yang terkenal dengan butik-butik mahalnya. Selebriti, model, socialite dan orang-orang dari daftar VVIP lalu lalang di depan mataku. Sepertinya aku melihat Vanessa Paradis, sayangnya tanpa Johnny Depp. Di ujung sebelah sana terlihat Sophie Marceau dan Catherine Deneuve. Aku tak boleh melupakan momen ini. Aku langsung memotret kiri-kanan dan sibuk mengagumi keindahan pesta. Kapan lagi aku bisa bertemu in person dengan selebriti dunia?&lt;br /&gt; Buatku, pesta sepertinya tak pernah berakhir. Usai gala dinner, JP mengajakku menikmati malam di sebuah kafe bernama Chez Antoine,  di kawasan Place St. Michel. “Bienvenu a Paris, Luna,” kata Antoine, sang pemilik kafe yang juga teman lama JP. &lt;br /&gt; Malam sudah sangat larut ketika kami memutuskan pulang. Kami menyusuri jalan setapak di sepanjang Place St. Michel yang dipenuhi oleh kafe dan restoran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa&lt;br /&gt;Lokasi: di depan lukisan Mona Lisa di Musee du Louvre. &lt;br /&gt; Hari ini, panitia menyiapkan city tour untuk rombongan. Kami dibawa mengunjungi semua obyek wisata di Paris. Tibalah kami di Musee du Louvre. Saat pertama kali melihatnya, aku langsung jatuh cinta pada Louvre. Bangunan indah ini terasa membawaku ke masa lampau. Museum yang indah dan besar ini menyimpan berbagai koleksi seni dari seluruh penjuru dunia. Termasuk, lukisan Mona Lisa yang tersohor itu. Aku tak henti-hentinya mengagumi lukisan karya Leonardo da Vinci yang ternyata berukuran jauh lebih kecil dari perkiraanku. Tak sadar, aku memegang tangan JP. Bukannya  melepas, ia malah menggenggam tanganku erat-erat. Kami sama-sama kaget, tapi tak bereaksi. Kami terbawa suasana, dan membiarkan hal itu terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis&lt;br /&gt;Lokasi: Jakarta.&lt;br /&gt; Indahnya Paris harus berakhir. Setelah melalui perjalanan panjang, aku tiba kembali di Jakarta. Dan, aku harus berpisah dengan JP. “Au revoir, Luna,” kata JP. Secara resmi, aku memang tak pernah memberikan nomor telepon, kartu nama, atau segala macam bentuk identitasku kepadanya. Tapi, aku yakin, dia pasti akan menemukanku. &lt;br /&gt; Begitu tiba di rumah, dengan perasaan yang masih lelah, aku menelepon ke kantor. Teman-teman di kantor tak sabar menanyakan oleh-oleh yang aku bawa. Dengan penuh semangat, Mbak Tania ingin mendapatkan cerita lengkap soal perjalananku. “Semua berjalan lancar, Mbak,” kataku. Aku rasa, dia tak perlu tahu detail pribadi yang terjadi di Paris antara aku dan JP.  &lt;br /&gt; Meski baru pulang dari perjalanan jauh, aku sama sekali tak merasa jetlag. Malamnya, aku sudah nongkrong di Starbucks bersama Trudy, Rara, dan Kev. Aku pun menceritakan pengalaman romantisku di Paris dari A sampai Z.&lt;br /&gt; “Aduh, Luna, apa yang kamu lakukan?” kata Rara, “Kamu selingkuh!’&lt;br /&gt; “Aku rasa tidak. Toh, kami tak membuat pernyataan apa-apa,” sanggahku.&lt;br /&gt; “Satu lagi, bukankah itu melanggar peraturan perusahaan, menjalin hubungan cinta dengan klien dan terjadi di saat tugas?” tambah Kev.&lt;br /&gt; “You are dead, Luna,” kata Rara.&lt;br /&gt; Tiba-tiba, aku merasa terpojok. Aku melupakan hal yang satu itu. Yang paling buruk, aku juga melupakan Raul. Sejak aku tiba di Jakarta, aku belum mendengar kabar dari Raul, di manapun dia berada.&lt;br /&gt; Sekelebat, bayangan Raul lewat. Hal itu membuat perasaan bersalahku makin menjadi-jadi. Aku berusaha menenangkan diri. Sekali lagi, aku tak jatuh cinta pada JP. Aku kagum pada lukisan Mona Lisa. Aku menikmati Louvre. Aku jatuh cinta pada Paris. Itu saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-112134293226416502?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/112134293226416502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=112134293226416502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/112134293226416502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/112134293226416502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/07/dating-diary-in-love-in-paris.html' title='Dating Diary: In Love in Paris'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-112134281622973646</id><published>2005-07-14T05:06:00.000-07:00</published><updated>2005-07-14T05:06:56.236-07:00</updated><title type='text'>How it's good to be a woman</title><content type='html'>Pembaca tercinta,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, waktu kecil, saya sempat bertanya-tanya, kenapa saya lahir sebagai wanita. Rasanya agak aneh juga, mengingat nama panggilan saya pun sangat mirip dengan pria. Mungkin tadinya orang tua menginginkan saya lahir sebagai anak laki-laki. Saat waktu berlalu, saya pun makin menyadari, ternyata lumayan juga menjadi anak perempuan. Sebetulnya bukan hanya lumayan, tapi justru betul-betul menyenangkan. Saya yang memang mudah mengeluarkan air mata, selalu dimaklumi saat menangis. Coba saja, kalau saya dulu lahir sebagai pria, pasti teman-teman akan langsung mengecap saya sebagai anak cengeng. Terus, saya juga punya pengalaman yang sangat mengesankan sebagai seorang wanita. Suatu ketika, saat tinggal di Eropa, saya harus pindah dari satu kota ke kota lain. Saya pun harus membawa barang-barang saya yang seabreg itu dengan kereta. Terus terang, saya agak keder saat menyadari kalau saya seorang diri. Siapa yang akan mengangkat kopor-kopor saya yang berat itu? Saat kereta akan berhenti di kota tujuan, saya (pura-pura) berusaha mengangkat kopor-kopor itu sendirian. Tentu saja, sambil melirik penumpang lain yang potensial untuk membantu saya. Tak disangka, para penumpang lain berebut membantu saya menurunkan kopor-kopor dari kereta! Modal saya hanya sedikit senyum plus tampang sangat pasrah! Kalau Anda ingin tahu lebih lanjut soal betapa menyenangkankannya menjadi wanita, silakan baca “26 alasan ....”, halaman xxx.&lt;br /&gt;Jadi wanita itu memang menyenangkan. Meskipun mungkin halangan bisa saja datang. Misalnya saja, isu domestic violence yang kebanyakan korbannya adalah kaum wanita. Tapi tenang, saya yakin, semua wanita di dunia ini pasti akan tergerak untuk membantu. Pada tahun xxx, Cosmo pernah aktif berkampanye soal kekerasan dalam rumah tangga (Stop in the Name of Love). Kini, kami kembali mengingatkan kepada Anda, kalau masalah ini masih ada. Mari, kita bersama-sama, bahu membahu, saling membantu, dan bergotong royong menegakkan lagi kampanye ini. &lt;br /&gt;Sekali lagi, rasanya tak ada lagi yang disesalkan menjadi seorang perempuan. Apalagi, hanya perempuan yang bisa punya majalah yang membahas berbagai topik soal kaumnya, penuh dengan tips menghadapi berbagai problem hidup plus cara bersenang-senang tanpa batas. Kalau Anda bukan wanita, bagaimana Anda bisa mendapatkannya? Memang, jadi wanita itu menyenangkan. Anda setuju dengan pendapat saya, bukan? Selamat menikmati Cosmo Edisi Wanita bulan ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam hangat, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yustiniani Notari (Nino)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-112134281622973646?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/112134281622973646/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=112134281622973646' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/112134281622973646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/112134281622973646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/07/how-its-good-to-be-woman.html' title='How it&apos;s good to be a woman'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111949761193744479</id><published>2005-06-22T20:30:00.000-07:00</published><updated>2005-06-22T20:33:31.943-07:00</updated><title type='text'>Les love-birds au boulot</title><content type='html'>Max: Hello tresor!&lt;br /&gt;Moi: Ca va? Qu'est-ce que tu fais? Tu bosses? Je te derange?&lt;br /&gt;Max: Non, tu ne me deranges jamais&lt;br /&gt;Moi: En fait, je voulais juste te dire que tu me manques&lt;br /&gt;Max: Tu me manques aussi, mon tresor&lt;br /&gt;Moi: Bon allez, je dois retourner au boulot. Demain c'est le bouclage. Il faut que je travaille un peu&lt;br /&gt;Max: Oki doki&lt;br /&gt;Moi: Je t'aime, M....!&lt;br /&gt;Max: Je t'aime aussi, N...!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111949761193744479?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111949761193744479/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111949761193744479' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111949761193744479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111949761193744479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/les-love-birds-au-boulot.html' title='Les love-birds au boulot'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111942482633641140</id><published>2005-06-22T00:20:00.000-07:00</published><updated>2005-06-22T00:20:26.336-07:00</updated><title type='text'>Rindu Berselimut Sepi</title><content type='html'>Kamu bukanlah seperti terlihat di mata&lt;br /&gt;Kamu hidup dalam bayangan tak nyata&lt;br /&gt;Kadang datang, kadang hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tidak datang mampir semalam&lt;br /&gt;Kamu indah, tapi tak boleh kusentuh&lt;br /&gt;Tersenyum lalu pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu ada, tapi kamu maya&lt;br /&gt;Tertawa, tapi membuatku menangis&lt;br /&gt;Dan kamu membiarkan rinduku berselimut sepi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111942482633641140?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111942482633641140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111942482633641140' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942482633641140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942482633641140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/rindu-berselimut-sepi.html' title='Rindu Berselimut Sepi'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111942476973030796</id><published>2005-06-22T00:19:00.000-07:00</published><updated>2005-06-22T00:19:29.730-07:00</updated><title type='text'>Love Dying Young</title><content type='html'>There is no need to kill love, &lt;br /&gt;It will die anyway&lt;br /&gt;There is no need to burst into tears&lt;br /&gt;It will waste your time&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love never seems as it is&lt;br /&gt;Because love may not stay&lt;br /&gt;Love will go away&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don’t believe in it&lt;br /&gt;Because you’re running out of hope&lt;br /&gt;That true love exists&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just listen to what your heart tells you&lt;br /&gt;Your love will not stay&lt;br /&gt;His love will go away&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One thing you’d want to have in the next second&lt;br /&gt;The day you realize your love is gone&lt;br /&gt;Will be the day you are waiting for&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111942476973030796?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111942476973030796/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111942476973030796' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942476973030796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942476973030796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/love-dying-young.html' title='Love Dying Young'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111942453140445282</id><published>2005-06-22T00:15:00.000-07:00</published><updated>2005-06-22T00:15:31.406-07:00</updated><title type='text'>Loveless</title><content type='html'>Emptiness filled by tears&lt;br /&gt;Insensitivity melts in confusion&lt;br /&gt;Sadness mixed with anger&lt;br /&gt;Welcome to the loveless land&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111942453140445282?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111942453140445282/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111942453140445282' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942453140445282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942453140445282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/loveless.html' title='Loveless'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111942450077709453</id><published>2005-06-22T00:14:00.001-07:00</published><updated>2005-06-22T00:15:00.776-07:00</updated><title type='text'>Insensitivity</title><content type='html'>Empty&lt;br /&gt;Insensitive&lt;br /&gt;Sad&lt;br /&gt;Hopeless&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That’s what you see when you look at me in the mirror&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111942450077709453?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111942450077709453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111942450077709453' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942450077709453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942450077709453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/insensitivity.html' title='Insensitivity'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111942447222389665</id><published>2005-06-22T00:14:00.000-07:00</published><updated>2005-06-22T00:14:32.223-07:00</updated><title type='text'>I love you when you don't love me</title><content type='html'>I walked down the street&lt;br /&gt;I saw you in the glimpse of my heart&lt;br /&gt;You looked very real&lt;br /&gt;You looked very happy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Those four letters are gone away&lt;br /&gt;I missed to touch your face&lt;br /&gt;I wanted to scream out loud&lt;br /&gt;But you were anywhere in my sight&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The snowballs melted in your lips&lt;br /&gt;You left them there for me to kiss&lt;br /&gt;You never told me you loved me&lt;br /&gt;That’s one thing I love about you&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111942447222389665?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111942447222389665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111942447222389665' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942447222389665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942447222389665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/i-love-you-when-you-dont-love-me.html' title='I love you when you don&apos;t love me'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111942441243176189</id><published>2005-06-22T00:13:00.000-07:00</published><updated>2005-06-22T00:13:32.433-07:00</updated><title type='text'>Un coeur torture</title><content type='html'>Suatu hari menjelang musim panas&lt;br /&gt;Awan bergulung-gulung di atas langit Paris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tour Eiffel terenggut dari sumbunya&lt;br /&gt;Montmartre putih menjadi hitam&lt;br /&gt;Champs Elysees riuh berubah bisu&lt;br /&gt;Beaubourg mendadak sepi dari seni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama Bastille bebas dari jeruji&lt;br /&gt;Tapi hati yang terkurung itu tetap ada di sini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111942441243176189?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111942441243176189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111942441243176189' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942441243176189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942441243176189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/un-coeur-torture.html' title='Un coeur torture'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111942435956094477</id><published>2005-06-22T00:12:00.000-07:00</published><updated>2005-06-22T00:12:39.560-07:00</updated><title type='text'>Tiga Belas</title><content type='html'>Tiga belas pasang mata jadi saksi&lt;br /&gt;Pada sebuah ketololan terbesar dunia ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga belas pasang mata pernah ambil peran&lt;br /&gt;Dalam kekejaman biadab terhadap sebuah nyawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga belas pasang mata pernah tertawa&lt;br /&gt;Di atas sebuah penderitaan yang mereka tak peduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ingin sepasang mata di wajahmu itu menjadikannya empat belas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111942435956094477?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111942435956094477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111942435956094477' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942435956094477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942435956094477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/tiga-belas.html' title='Tiga Belas'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111942432356079981</id><published>2005-06-22T00:11:00.001-07:00</published><updated>2005-06-22T00:12:03.560-07:00</updated><title type='text'>Kepribadian Ganda</title><content type='html'>Aku marah&lt;br /&gt;Aku menangis&lt;br /&gt;Aku berteriak&lt;br /&gt;Aku tertawa&lt;br /&gt;Aku kejam&lt;br /&gt;Aku baik hati&lt;br /&gt;Dan ada rahasia yang kamu tak pernah tahu&lt;br /&gt;Hatiku penuh dengan cinta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111942432356079981?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111942432356079981/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111942432356079981' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942432356079981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942432356079981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/kepribadian-ganda.html' title='Kepribadian Ganda'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111942428982066544</id><published>2005-06-22T00:11:00.000-07:00</published><updated>2005-06-22T00:11:29.820-07:00</updated><title type='text'>Mustahil</title><content type='html'>Aku rekonstruksi hari ini&lt;br /&gt;Aku deformasi semua kebohongan&lt;br /&gt;Aku putar balikkan waktu&lt;br /&gt;Tapi fakta tetap bicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu kenapa aku masih ingin mengubah dunia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111942428982066544?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111942428982066544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111942428982066544' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942428982066544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942428982066544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/mustahil.html' title='Mustahil'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111942425459924423</id><published>2005-06-22T00:10:00.000-07:00</published><updated>2005-06-22T00:10:54.603-07:00</updated><title type='text'>Kosong</title><content type='html'>Kutengok hati ini &lt;br /&gt;Kosong tak berisi&lt;br /&gt;Kulihat hati itu&lt;br /&gt;Yang ada hanya semu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari berjalan bersamaku&lt;br /&gt;Kalau kamu mau&lt;br /&gt;Tak perlu merasa terintimidasi&lt;br /&gt;Aku tak akan pernah menyakiti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu diam&lt;br /&gt;Tanpa suara&lt;br /&gt;Aku tak ingin memaksa&lt;br /&gt;Kata hatimu yang akan bicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kugandeng tanganmu&lt;br /&gt;Karena aku tahu apa yang ada dalam benak itu&lt;br /&gt;Dunia sudah kehilangan semua yang indah &lt;br /&gt;Dan keadilan tak mau berpihak pada yang lemah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111942425459924423?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111942425459924423/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111942425459924423' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942425459924423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111942425459924423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/kosong.html' title='Kosong'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111934914652606276</id><published>2005-06-21T03:18:00.000-07:00</published><updated>2005-06-21T03:19:06.530-07:00</updated><title type='text'>Dating Diary: Perfect Love Goes Wrong</title><content type='html'>Dating Diary: The roller coaster story of one woman’s quest for love, lust and adventure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup yang indah ini memang harus diisi dengan cinta. Aku tak tahu pasti, berapa banyak pasangan yang beruntung mendapatkan cinta yang begitu sempurna. Dulu, aku selalu  iri dengan kisah cinta sahabatku, Trudy, dengan pacarnya Roman. Kelihatannya, mereka begitu bahagia. Trudy sangat cantik dan menarik, sementara Roman yang gagah dan berprofesi sebagai fotografer freelance itu terlihat begitu mencintai pacarnya. Tapi, siapa sangka ternyata cinta yang sempurna itu harus mengalami goncangan hebat? Jadi, sebetulnya, adakah cinta yang sempurna itu di dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu&lt;br /&gt;Malam Minggu ini berakhir di bandara. Aku sedang mengantar Raoul yang berangkat ke London. Ia mendapat undangan dari almamaternya untuk sebuah konferensi. Tadinya, Raoul memang mengajakku pergi. Malang buatku, jatah cutiku sudah habis untuk liburan ke Bali enam bulan lalu. “Aku kan tidak pergi lama, Luna,” kata Raoul menghiburku. Ia pergi sebulan, tapi dibilang tidak lama. Setelah konferensi, Raoul memang ingin berlibur dan jalan-jalan ke Eropa. Aduh, asyiknya! Sementara aku gigit jadi dan terus menyesali nasib malangku ini, Raoul terlihat begitu bahagia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa&lt;br /&gt; Sudah dua hari tak ada Raoul. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan  Rara, Trudy dan Kev. Rara yang baru putus dengan pacarnya selama ini terus membiarkan posisi itu kosong melompong. “Belum ada yang pantas untuk duduk di singgasana itu,” katanya dengan santai. Sepertinya ia memang begitu menikmati kehidupan single yang katanya jauh lebih menyenangkan daripada punya pacar. Sedangkan Kev sekarang sedang dalam taraf pendekatan dengan seorang pemain band yang sedang merintis karier. Hingga saat ini, Kev belum berani “go public” tentang si rocker ini. “Tunggu saja kalau sudah jadian. Lagipula, malas sekali kalau nanti ada gosip yang tidak-tidak,” kata Kev, si pecinta sejenis dengan nada GR, mirip artis terkenal yang rawan gosip! Sedangkan Trudy? Ia mengaku kalau hubungannya dengan Roman baik-baik saja. Tapi, saat aku perhatikan, sepertinya ada sesuatu yang salah dengan Trudy. Sebagai sahabat, kata hatiku begitu kuat mengatakan demikian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat&lt;br /&gt; Tak seperti biasanya, Trudy muncul di kantorku, tanpa pemberitahuan lebih dulu. Untung saja aku sedang tidak pergi meliput atau wawancara. “Tumben, Trudy, dari mana?” tanyaku. &lt;br /&gt;“Langsung dari kantor juga. Aku diperbolehkan pulang awal karena tak enak badan,” katanya pendek.&lt;br /&gt; “Hati-hati saja, jangan sampai ketahuan kalau kamu ada di sini,” kataku meledek. Trudy merengut, tak biasanya dia seperti itu. &lt;br /&gt; “Mau  mengajak Kev dan Rara untuk makan malam?” tanyaku sambil membereskan dokumen yang ada di depanku. Tiba-tiba komputerku mengeluarkan bunyi pertanda ada e-mail masuk. Raoul mengirim email, dan mengabarkan keadaannya. Ia sekarang ada di Madrid dan besok akan terbang ke Ibiza. Aku melenguh kecil, Ibiza adalah tempat liburan yang sudah lama aku impikan!&lt;br /&gt; “Sialan, Raoul pergi ke Ibiza tanpaku!” kataku sambil bersungut-sungut membayangkan pacarku yang bersenang-senang di tempat “keriaan” nomor satu di dunia. &lt;br /&gt; “Mendingan kita dinner berdua saja, yuk!” tanya Trudy seakan tak memperdulikan ucapanku. &lt;br /&gt; “Boleh saja. Tumben, ada apa?” kataku masih terus bertanya-tanya apa yang salah dengan Trudy.&lt;br /&gt; “Tak ada apa-apa. Hanya ingin bercerita saja,” jawabnya. &lt;br /&gt; Dugaanku tepat. Trudy sedang punya masalah dengan Roman. Sepanjang malam, Trudy berkeluh kesah tentang kelakuan pacarnya yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu&lt;br /&gt; Trudy menelepon dan bercerita kalau Roman sudah makin tak terkendali. Biasanya, mereka selalu menghabiskan akhir pekan bersama. Kali ini, sama sekali tak ada kabar berita. Ponsel dimatikan, telepon rumah tak diangkat, dan tak ada jejak sama sekali.&lt;br /&gt; “Siapa tahu dia sekarang sedang di Ibiza dengan Raoul,” kataku bercanda. Trudy marah-marah mendengar aku becanda yang sama sekali tidak bermutu. &lt;br /&gt; “Aku tak mengerti, Luna, apa yang terjadi dengan Roman?” tanyanya. &lt;br /&gt; Roman yang tadinya sangat sayang kepada Trudy kini kerap menunjukkan sikap tak peduli. Berulang kali membatalkan janji mendadak, selalu menentang keinginan Trudy, mendadak jadi tukang kritik nomor satu buat Trudy, dan masih banyak sekali perubahan sifat yang sama sekali tak bisa dimengerti. &lt;br /&gt; Aku pusing ikut memikirkan nasib sahabatku ini. Apakah ini pertanda cinta yang akan berakhir? Untuk membayangkannya, aku sudah cukup ngeri. Ditambah, aku juga khawatir dengan Raoul, yang sekarang ada di Portugal dan aku tak tahu apa yang sedang dilakukannya di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin&lt;br /&gt; Sejak Roman berubah sikap, aku dan Trudy berubah menjadi detektif. Pria ini memang perlu dimata-matai, begitu kami bersepakat. Setiap ada perkembangan yang terjadi, kami saling melapor. Aku membuka buku dan majalah yang membahas masalah relationship. Bahkan, aku nekad membuntuti Roman dari rumahnya, demi Trudy. Aku mengajak Rara untuk melakukan aksiku malam ini. Dengan kaca mata hitam dan mobil pinjaman yang tak dikenali, aku mengikuti ke mana Roman pergi. Penyelidikan hampir berakhir di depan studio tempat Roman bekerja. &lt;br /&gt; Aku dan Rara masih termangu di dalam mobil. Sudah tiga jam kami berada di sana. Sepertinya, tak ada tanda-tanda yang membahayakan. Kami hampir memutuskan pulang, karena sudah kelelahan. Mungkin memang Roman tak melakukan perbuatan “kriminal cinta”. &lt;br /&gt; “Tunggu,” kata Rara saat aku mau menyalakan mesin mobil. Rupanya ia melihat seseorang keluar dari studio foto itu. Sosok itu mirip sekali dengan Roman, tinggi, berambut panjang dan mengenakan jaket kulit hitam. &lt;br /&gt; Roman keluar dari studio bersama dengan seorang wanita yang cantik dan berpostur sempurna. Tinggi, berambut panjang berombak yang indah, dan mengenakan pakaian seksi. Rara langsung mengeluarkan teleskop yang memang sudah kami persiapkan.&lt;br /&gt; Roman memeluk dan mencium wanita itu begitu lama. “Panas!” kata Rara yang kini sibuk mengatur zoom kamera digital kecilnya. Aku makin termangu, tak bisa berkata apa-apa. Kami berhasil mendapatkan gambar Roman bersama dengan wanita itu. Tapi, kami tak tahu harus diapakan foto itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa&lt;br /&gt; Trudy mengajak aku dan Rara minum kopi sepulang kantor. “Bagaimana penyelidikan tadi malam?” tanyanya dengan nada datar. &lt;br /&gt; Aku dan Rara saling berpandangan. Tak tahu mau bicara apa. Kemarin malam setelah penyelidikan, kami memang dilanda dilema. Menurutku, Trudy harus tahu apa yang terjadi, seberapapun menyakitkannya hal itu. Rara yang sangat sayang pada Trudy tak tega untuk mengatakan hal itu. Kami tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Trudy jika mendengar hal itu. &lt;br /&gt; “Jadi, bagaimana?” tanya Trudy lagi.&lt;br /&gt; Aku hanya terdiam dengan sedih. Aku menunggu Rara mengatakan sesuatu.&lt;br /&gt; “Rasanya, kami memang bukan detektif yang baik, Trudy,” kata Rara pelan. Kakinya menendang kakiku di bawah meja. Aku tak boleh bicara. Aku sedih karena melakukan dua dosa sekaligus. Berbohong kepada sahabat dan membiarkan ia terus menerus penasaran. Aku merasa, aku bukan sahabat yang baik!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111934914652606276?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111934914652606276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111934914652606276' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934914652606276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934914652606276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/dating-diary-perfect-love-goes-wrong.html' title='Dating Diary: Perfect Love Goes Wrong'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111934872575188548</id><published>2005-06-21T03:11:00.000-07:00</published><updated>2005-06-21T03:12:05.760-07:00</updated><title type='text'>Jakarta-Beijing PP</title><content type='html'>“Beijing: 450 dolar,” aku mendengar Abel bergumam saat membolak-balik koran. Buatnya, ini adalah bagian yang paling menarik saat membaca koran pagi. Kuperhatikan, dengan sangat teliti jari-jarinya menelusuri kolom yang berderet di halaman itu. Section travel. Tiba-tiba jarinya berhenti. &lt;br /&gt;“Wah, yang ini lumayan. Hanya 380 dolar!” Abel berteriak kecil, sambil tak lupa menyunggingkan senyum di bibirnya. &lt;br /&gt;“PP atau tidak, Bel? Kalau hanya sekali jalan, bagaimana kamu pulang?” tanyaku sekenanya. Aku sedang menikmati kopi pagi di mejaku yang bersebelahan dengan cubicle Abel.&lt;br /&gt;“Nggak tahu. Nanti aku cek. Tapi, kalau pun nggak pulang, biarin saja. Toh tak ada yang menungguku di sini.”&lt;br /&gt;“Siapa bilang? Tuh, lihat, pekerjaan kamu masih menumpuk. Kalau kamu tak pulang, berarti semua tugas itu harus aku kerjakan. Enak saja!” kataku bercanda. &lt;br /&gt;“Look, yang ini lebih murah lagi! Masak cuma 250 dolar? Naik apa, Hercules? Yang benar saja!” ia mengumpat sendiri. &lt;br /&gt;Lama-lama, aku jadi penasaran dengan halaman yang dibacanya. Aku bangkit menghampiri Abel dan ikut memeriksa daftar harga tiket pesawat yang ada di koran itu. &lt;br /&gt;“Paket tur Cina Penuh Pelangi, harga 1700 dolar. Hm, mahal amat!” kataku ikut bersemangat.&lt;br /&gt;“Aduh, malas deh. Ngapain juga ikut tur? Mendingan jalan sendiri!” kata Abel menyahut dengan suara yang keras. Beberapa rekan yang baru berdatangan menoleh dengan heran saat mendengar pembicaraan kami.&lt;br /&gt;“Memangnya kapan kamu mau pergi, sih, Bel?” tanyaku. Setahuku, Abel baru ambil cuti beberapa waktu yang lalu keliling Eropa. &lt;br /&gt;“Tahun depan. Jatah cutiku sudah habis tahun ini.”&lt;br /&gt;“Lalu, ngapain kamu melihat-lihat harga tiket kalau tidak mau pergi dalam waktu dekat?”&lt;br /&gt;“Iseng saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, Abel sedang jatuh cinta. Hanya saja, cintanya kali ini berharga mahal dan berjarak terlalu jauh. Cowok yang ditaksir Abel itu tinggal nun jauh di sana. Beijing! Busyet! Berulang kali aku mengingatkan, cinta jarak jauh itu lebih banyak menyusahkan. Bayangkan saja, tak bisa setiap saat bertemu, hanya bisa bicara lewat sambungan internasional, berkirim e-mail, atau chatting lewat internet. Ini masih belum ditambah dengan sumpah serapah kalau server tiba-tiba down. Sudah begitu, bagaimana kita tahu kalau cowok yang tinggal di seberang sana itu bisa setia? Buat aku, cinta jarak jauh itu sengsara! Aku tak pernah mengalami, dan sama sekali tak mau mengalami. &lt;br /&gt;Sepertinya tidak begitu halnya dengan Abel. Buktinya, ia begitu bersemangat menyambut cinta barunya itu. Maklum, selama tiga tahun terakhir, ia tak punya pacar. Terakhir kali, ia pacaran dengan seorang duda keren beranak dua. Bukan dua buntut yang membuat Abel tak tahan, ternyata si duda masih suka main mata dengan wanita lain. Setelah itu, ada beberapa nama pria yang sempat disebut oleh Abel, tapi semuanya kandas di tengah jalan. Bahkan, ada yang layu sebelum berkembang karena Abel menemukan fakta kalau si pria itu ternyata gay! Oh, oh!&lt;br /&gt;Sejak itu, Abel mulai menutup diri. Apalagi dia melihat kenyataan kalau banyak pria di Jakarta sekarang berubah orientasi seksual. Mereka tak tertarik lagi pada wanita, mereka pilih cinta pada sejenisnya. Aku pernah mendengar keluh kesah ini keluar dari mulut Abel. “Gila, Nien, masak si Andre yang keren itu pun ternyata gay! Belum lagi Gabriel, Roy, Adi. Apa yang terjadi dengan pria-pria jaman sekarang? Aku pusing!”&lt;br /&gt;Buat Abel, di dunia ini hanya ada dua tipe pria: playboy dan gay. Kalau bukan playboy yang hobi berganti-ganti cewek seenak jidat, dia pasti pria pecinta sejenis. Aku sendiri juga tak tahu, apakah ini hanya tren atau memang pria tak doyan wanita lagi? Jangan-jangan, kiamat sebentar lagi datang! &lt;br /&gt;Pada saat sudah mulai berada di ujung rasa putus asa, akhirnya kebenaran datang juga pada Abel. Sahabatku ini berjumpa dengan seorang pria di Beijing. Saat itu, ia mendapat tugas kerja ke Cina. &lt;br /&gt;“Wah, asyik! Aku bisa ketemu dengan Harvey, teman lamaku!” kata Abel dengan gembira. &lt;br /&gt;“Ingat, Bel, kamu ke sana untuk kerja, bukan tamasya!” kataku mengingatkan.&lt;br /&gt;“Aku tahu. Tapi tak ada salahnya, kan, sedikit bersenang-senang?” &lt;br /&gt;“Memang siapa sih Harvey?” tanyaku ingin tahu.&lt;br /&gt;“Teman lama waktu kuliah di Inggris. Dulu kami pernah dekat, dan hampir pacaran. Tapi tak jadi karena dia keburu lulus duluan dan pindah ke luar kota. Sudah empat tahun aku tidak ketemu dengannya. Paling-paling hanya berkirim e-mail saja. Kabarnya, dia sekarang kerja di Beijing!”&lt;br /&gt;“Orang Inggris bekerja di Beijing? Aneh!”&lt;br /&gt;“Ya, begitulah. Sudah tiga tahun dia tinggal di Beijing dan bekerja di perusahaan minyak Inggris yang ada di sana. Aku juga heran, apa sih menariknya negara itu?” tanya Abel sedikit bertanya-tanya pada diri sendiri. &lt;br /&gt; Sepulang dari Beijing, Abel memang terlihat sangat ceria. Akhirnya, ia menemukan pria yang bukan gay! Menurutnya, Harvey is the last straight man on earth. Aku hanya tertawa mendengar ceritanya. “Bagaimana kamu tahu?” tanyaku. &lt;br /&gt; “Aku tanya saja dia. Are you gay?” derai tawa Abel makin melengking tinggi.&lt;br /&gt; “Gila, kamu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nyatanya, Harvey memang berhasil membuat Abel gila. Well, untuk lebih halusnya, tergila-gila. Setiap hari, ia selalu menunggu e-mail dari Harvey dengan penuh harap. Terkadang aku menemukan Abel terkikik-kikik sendiri di depan komputer. &lt;br /&gt; “Tolong, serangan jantung!” kata Abel suatu ketika sambil memegangi dadanya, “Aku kena serangan jantung!”&lt;br /&gt; “Are you OK, Abel?” kataku tergopoh-gopoh menuju ke cubicle Abel. Aku sedikit panik. Sepanjang pengetahuanku duduk bersebelahan di kantor, Abel tak punya masalah dengan jantungnya. Bagaimana mungkin cinta malah membuatnya jadi jantungan?&lt;br /&gt; “Oh, I am fine, Nien. Look, Harvey mengirim e-mail!” Rupanya, sudah hampir seminggu Harvey absen mengirim e-mail, dan hal itu cukup membuat Abel stres. Dan kini ia kegirangan melihat tanda “A New Message”. E-mail dari Harvey.&lt;br /&gt; “Sialan, aku pikir kamu betulan kena serangan jantung!” kataku sambil balik ke cubicle-ku. Gara-gara teriakan histeris Abel, konsentrasiku terpecah. Padahal aku sedang mengerjakan presentasi yang sudah ditunggu oleh Big Boss besok pagi. Aku masih merutuk dalam hati. &lt;br /&gt; Abel masih terlihat sangat overjoyed saat menghampiri cubicle-ku. Aku tetap terdiam sambil menunjukkan tanda “Don’t Disturb” yang kupasang di dinding cubicle. &lt;br /&gt; “Maafkan aku, Nien. Tapi tadi aku betul-betul bahagia!” kata Abel dengan muka yang sangat cerah ceria. &lt;br /&gt; “Yeah, yeah,” kataku pendek.&lt;br /&gt; “Bilang-bilang yai kalau kamu sudah selesai dengan presentasimu. Aku mau cerita isi e-mail dari Harvey, nih!”&lt;br /&gt; “Yeah, yeah,” hanya itu yang bisa aku katakan. Abel, tolong, aku sedang berusaha konsentrasi, teriakku dalam hati. &lt;br /&gt; Setiap hari, aku selalu mendengar cerita tentang Harvey dari mulut Abel. Harvey sedang pergi ke Hongkong, Harvey dapat promosi, Harvey suka makan restoran minimalis Green Tea House dan berjanji akan membawa Abel ke sana, Harvey pria paling romantis sedunia (ah, mana ada pria Inggris yang romantis, sanggahku kepada Abel), Harvey begini, Harvey begitu. Entah kenapa, nyatanya aku selalu tertarik mendengar mulut ceriwis Abel bercerita tentang Harvey. Bukan, bukan karena setiap kali bercerita, Abel selalu membawakan frappucino Starbucks favoritku. Bukan pula karena setiap kali bercerita Abel selalu membantuku membawakan ini-dan-itu untuk kerja. Entah itu post-it, stapler atau disket yang kebetulan sedang aku butuhkan. Bukan, bukan itu. Aku hanya senang melihat Abel, sahabat sekaligus rekan kerjaku bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pagi itu, wajah Abel terlihat mendung. Dia datang ke kantor lebih pagi daripada aku. Di sebelahnya, koran pagi terbuka pada halaman iklan kolom perjalanan. Tapi Abel lebih suka membenamkan diri dengan tumpukan pekerjaannya. Tumben. &lt;br /&gt; “What’s up, Bel?” tanyaku. Aku melemparkan tas ke meja, dan bersiap-siap membuat kopi di pantry. &lt;br /&gt; “Nggak ada apa-apa,” katanya pendek.&lt;br /&gt; “Ah, ayolah. Kamu kok kelihatan sedih begitu?” aku mengurungkan niatku membuat kopi. &lt;br /&gt; Abel masih terdiam.&lt;br /&gt; “Tagihan kamu membengkak lagi gara-gara kebanyakan telepon ke Beijing?” kataku becanda. Terakhir kali, Abel mengeluh soal tagihan teleponnya yang hampir dua juta hanya untuk sambungan internasional.&lt;br /&gt; “Bukan.”&lt;br /&gt; “Harvey ketahuan sudah punya istri?”&lt;br /&gt; “Bukan.”&lt;br /&gt; “Harvey dideportasi karena ijin kerjanya over limit?”&lt;br /&gt; “Bukan.”&lt;br /&gt; “Lalu apa?” aku mulai tak sabar. Aku butuh secangkir kopi pagi ini!&lt;br /&gt; “Harvey..., Harvey....”&lt;br /&gt; “Kenapa lagi dengan Harvey?”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111934872575188548?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111934872575188548/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111934872575188548' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934872575188548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934872575188548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/jakarta-beijing-pp.html' title='Jakarta-Beijing PP'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111934713689245298</id><published>2005-06-21T02:45:00.000-07:00</published><updated>2005-06-21T02:45:36.900-07:00</updated><title type='text'>Di Hari Saat CIntaku Mati</title><content type='html'>20 April 2003, jalanan di kota New York. Aku menembus hujan rintik-rintik yang tiba-tiba datang. Dalam hati aku bersyukur, waktu yang tepat untuk hujan. Soalnya, jadwal pemotretan outdoor yang kami lakukan hari ini sudah selesai sejam yang lalu. Andre, rekan kerjaku yang berbadan sedikit montok, tergopoh-gopoh menyusulku. Dengan langkah panjang, aku bergegas ke stasiun subway yang tinggal satu blok di depan mata. &lt;br /&gt; Belum juga mencapai tangga menuruni stasiun subway, ponselku berdering. Anonymous call. Pasti ini telepon dari Jakarta, aku membatin.&lt;br /&gt; “Hello?”&lt;br /&gt; “Tinka?”&lt;br /&gt; “Speaking.”&lt;br /&gt; “Where are you?”&lt;br /&gt; “On my way to the apartment,” jawabku, sedikit terengah-engah menuruni tangga.&lt;br /&gt; “Aku hanya ingin tahu kabarmu. Kalau begitu, telepon aku begitu kamu sampai. OK?” &lt;br /&gt; “See you.” Aku menutup telepon. &lt;br /&gt; “Siapa?” tanya Andre. Di balik kacamata bulatnya, matanya terlihat menyelidik. &lt;br /&gt; “Ingin tahu saja sih!” kataku tertawa.&lt;br /&gt; “Let me guess. Pasti Rey, pacar barumu ya?” kata Andre, mengeluarkan bubble gum andalannya. Ia menawarkan sepotong untukku.&lt;br /&gt; “Ya, ya.”&lt;br /&gt; “Dia menelepon lagi? Gila deh pacarmu itu. Nggak bosan-bosannya menelepon. Di apartemen, di lokasi pemotretan, di jalan. Dia betul-betul jatuh cinta padamu, Tinka?” &lt;br /&gt; Aku hanya mengangkat bahu.&lt;br /&gt; Di subway, seorang pria bule berambut pirang dan bermata biru mengambil tempat duduk di depan kami. Sangat gagah. Pasti perutnya six-pack, kataku dalam hati. Aku melirik Andre. Rupanya, ia juga sedang memperhatikan pria itu. &lt;br /&gt; “Keren ya?” kata Andre. Matanya seakan-akan ingin menelan pria berambut pirang itu bulat-bulat. &lt;br /&gt; “He-eh.” Aku menjawab, tapi tak berminat untuk meneruskan pembicaraan. Pikiranku melayang. Jauh ke Jakarta. &lt;br /&gt; Seminggu yang lalu, Andre dan aku tiba di New York. Kami mendapat assignment untuk melakukan pemotretan di sini. Tentu saja, sangat menyenangkan. Apalagi aku bekerja dengan Andre, si fotografer gay yang jenius itu. Aku harus melakukan pemotretan katalog untuk klien kami, sebuah brand fashion terkenal. &lt;br /&gt; Tiba di apartemen, aku sudah tak ingin melakukan apa-apa lagi. Cuaca mendung memang paling bisa bikin orang jadi malas! Di dapur, Andre sibuk mengaduk mie instant yang menebarkan aroma yang menggiurkan. Dasar perut Melayu, ledekku.&lt;br /&gt; Kriinggg. Telepon di apartemen yang kami sewa itu berbunyi.  Jangan harap Andre akan mengangkat. Ia terlalu asyik dengan mangkuk noodle-nya. &lt;br /&gt; “Halo?”&lt;br /&gt; “Tinka? Sudah sampai di apartemen? Why didn’t you call me?” kata suara di seberang sana. Aku hapal betul siapa itu. Rey!&lt;br /&gt; “I was going to. Tapi tak apalah. Yang penting kita sudah bertelepon bukan?”&lt;br /&gt; Tak lama kemudian, kami sudah terlibat pembicaraan panjang. Semua  kami omongkan. Mulai dari acara pemotretan hari ini, cuaca New York yang tak terduga, ceritanya tentang meeting dengan klien yang alot. Juga, bumbu-bumbu kalimat “I miss you” dan “I love you”. Bukan aku yang mengucapkan dua kalimat ini. Yang jelas, Rey memang selalu bisa membuatku melayang! &lt;br /&gt;Aku rasa, aku memang betul-betul jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 April 2003, Bandara Cengkareng. Setelah melewatkan lebih dari dua puluh jam di perjalanan, pesawat yang kami tumpangi mendarat di tanah air.&lt;br /&gt; “Tinka!”&lt;br /&gt; Aku menoleh. Di sana, aku melihat sosok tegap Rey, dengan karangan bunga mawar dari Glamourette di tangan. Pasti untukku.&lt;br /&gt; “Apa kabar, honey? Lelah?” sapanya sambil meraih bawaanku.&lt;br /&gt; “Ya, lumayan,” kataku sambil mengucapkan selamat tinggal dengan Andre yang berlalu dalam taksi jemputan.&lt;br /&gt; Di dalam mobil, Rey mulai menciumiku. “I miss you, Tinka,” bisiknya berulang-ulang. Aku terdiam, menikmati lidahnya yang menelusuri seluruh tubuhku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Mei 2003, di apartemenku. Rey muncul di depan pintu, hanya lima menit telat dari waktu yang dijanjikan. Malam ini, ia mengajakku nonton di MPX Grande. Aku sedang bersiap-siap, bingung mau pakai baju apa. Di atas tempat tidurku, beberapa gaun bertebaran. Aku masih bingung.&lt;br /&gt; “You look good in that dress,” katanya sambil mengancingkan bagian belakang punggungku. Tak lupa sebuah kecupan kecil mendarat di sana. &lt;br /&gt; Rey selalu identik dengan cium. Bahkan terkadang aku merasa, hidupnya tak pernah lepas dari cium. Dalam hati, aku membayangkan. Hanya untukkukah? &lt;br /&gt;Atau, juga untuk wanita lain? &lt;br /&gt;Aku tak tahu.&lt;br /&gt;Mendadak aku mood-ku hilang. Aku tak ingin keluar malam ini. Tapi bagaimana aku bilang pada Rey? Aku tak mau dia marah karena tiba-tiba aku tak ingin pergi.&lt;br /&gt;“What’s up, darling?” tanyanya memandangku heran. “Kamu sakit?”&lt;br /&gt;“Kok kepalaku pusing ya? Mungkin kena migren,” kataku hati-hati. “Kayaknya lebih baik kita tak usah pergi saja.” &lt;br /&gt;“Whatever you say, darling. Kalau begitu kamu berbaring saja,” Rey membimbing aku ke tempat tidur. Entah ini hanya drama atau aku memang betul-betul kena migren, aku hanya menurut. Rey menyelimuti tubuhku dengan comforter biru muda di atas tempat tidurku. &lt;br /&gt;Malam itu, kami pun menghabiskan malam bersama. Dengan Rey, aku tak pernah bisa menolak. Aku bahkan tak ingat lagi apa saja yang dilakukannya kepadau. Yang terdengar dan terasa, hanyalah tarikan nafas naik turun saat kami bercinta. Penuh peluh, penuh lenguhan. &lt;br /&gt;“I love you, Rey,” bisikku saat terbangun keesokan harinya.&lt;br /&gt;Rey sudah tak ada lagi di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Juni 2003, di kantor. Seperti biasanya, pagi-pagi aku sudah nongol di kantor. Andre menyambutku dengan seringai khasnya. &lt;br /&gt; “Pagi, Donna,” katanya menirukan iklan di televisi.&lt;br /&gt; “Namaku bukan Donna,” kataku sambil berlalu menuju ke ruanganku. &lt;br /&gt; “Tinka, darling, sudah dengar kabar terbaru?” kata Andre sambil memegang cangkir kopinya, mengikutiku dari belakang.&lt;br /&gt; “Kabar apa? Yang ada hanya kabar kabur!” aku menyalakan komputer dan mengecek e-mail yang masuk.&lt;br /&gt; “Big boss dan para pejabat di atas sana suka sekali dengan hasil kerja kita,” Andre sambil membawakan file berisi foto pemotretan New York. “Hasil kerja keras kita tak sia-sia! They love it!”&lt;br /&gt; “Excellent,” jawabku pendek.&lt;br /&gt; “What’s wrong with you, Tinka? You are the fashion stylist, bukankah kamu sangat excited dengan proyek kita? Lihatlah, semua foto ini!” kata Andre membolak-balik foto-foto itu. Selembar foto model bule tersenyum ceria seakan-akan mengejekku. Aku menutup wajahku erat-erat. Aku tak ingin melihat dunia.&lt;br /&gt; “Semalam aku putus dengan Rey, Andre,” kataku.&lt;br /&gt; “What? Apa yang dilakukannya terhadapmu? Bukankah kelihatannya dia sangat mencintaimu?”&lt;br /&gt; “Who are you talking about? Nobody loves me.”&lt;br /&gt; “Come on, Tinka!”&lt;br /&gt; “It’s over now, Andre.”&lt;br /&gt; “Kenapa, Tinka? Tell me!”&lt;br /&gt; “Terkadang, kita tak butuh alasan untuk putus. Kalau memang sudah selesai, ya selesai saja!”&lt;br /&gt; Sama seperti Andre, aku sendiri tak tahu alasan kenapa peristiwa itu terjadi. Semalam, Rey mengatakan sebaiknya kita mempertimbangkan lagi hubungan yang kita jalani. Sangat diplomatis. Sangat menyakitkan.&lt;br /&gt;Yang jelas, seharian aku jadi bad mood. Aku bahkan pasang ekspresi datar ketika Big Boss memanggilku ke ruangannya. Katanya, klien sangat puas dengan hasil kerjaku. Selanjutnya, ia ingin mengirim aku dan Andre ke New York untuk pemotretan yang lain. &lt;br /&gt;Oh, no! Not New York again. Please. &lt;br /&gt;Aku hanya bisa meratap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Agustus 2003, di apartemenku. Hari ulang tahun Rey tiba. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Mau telepon? Rasanya aku tak kuat mendengar suaranya. Mau kirim bunga? Aku menggeleng pada diri sendiri. Mau ketemu? Not in this life! Kami sudah selesai, tak punya hubungan apa-apa lagi. Putus, tus. Tiba-tiba kepalaku pusing. Aku merasa, kejadiannya begitu cepat. Aku masih teringat saat ia terus meneleponku di New York. Atau, ia datang menjemputku makan di Blowfish dan dilanjutkan dengan dugem sepanjang malam. &lt;br /&gt;Aku masih ingat setiap ciuman yang ia berikan kepadaku. Atau, malam-malam panjang di bawah selimut saat kami bercinta. Membuatku merasa semuanya baru terjadi kemarin sore!&lt;br /&gt;Aku sengaja tak masuk kerja hari ini. Ponsel kumatikan, aku hanya mendekam di kamar. Tak peduli telepon dari kantor terus berdering di apartemenku. Tidakkah mereka tahu kalau aku sedang cuti?&lt;br /&gt; Hari ini berlalu di depan televisi. Tanganku di memencet-mencet remote control. Sumpah serapah kecil spontan keluar dari mulutku. Kenapa tak ada acara bermutu di televisi di republik ini? Tak sengaja, aku terpaku di depan sebuah acara infotainment. Tak terlalu menarik, memang. Tapi sudahlah, daripada jari-jariku lelah terus memencet dan berpindah saluran.&lt;br /&gt; Rey ada di televisi! &lt;br /&gt; Di sampingnya, seorang artis sinetron yang sedang naik daun tersenyum lebar. Wajah cantiknya menebar pesona. Dengan gayanya yang sok imut, ia bercerita soal pacar terbarunya. Rey!&lt;br /&gt; Aku tercenung. Aku marah. Aku mengumpat.&lt;br /&gt;Bangsat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 Agustus 2003, Kawasan Taman Ria Senayan. Setelah hampir tiga bulan aku uring-uringan, Andre mengajakku ke tempat keriaan. Malam ini, Andre dan Reza, pacar barunya, berniat pergi ke Manna Lounge. &lt;br /&gt; “Ayolah Tinka, join us,” kata Andre.&lt;br /&gt; “Ngapain?”&lt;br /&gt; “Minum kek, ngobrol kek, ndengerin musik kek.”&lt;br /&gt; “Kamu dengan pacarmu, dan aku cengok sendirian? Malas!” kataku ketus. &lt;br /&gt; Tapi rayuan Andre memang maut. Hasilnya, aku pun digiring Andre dan Reza ke suasana remang-remang di salah satu lounge di Taman Ria Senayan itu. Tak lama kemudian, seorang cowok datang bergabung. Seorang teman Reza yang bekerja sebagai eksekutif di sebuah stasiun televisi. Ganteng, tinggi, dan senyum lebar memperlihatkan deretan gigi putih. &lt;br /&gt; “Tuh, untukmu! ” bisik Andre nakal. Sialan!&lt;br /&gt; “Halo, saya Mario.”&lt;br /&gt; “Saya Tinka,” jawabku datar. Aku tak percaya berkenalan dengan laki-laki saat dugem. Sebetulnya, Mario sangat menarik. Tapi pandanganku terpaku pada sosok yang ada di meja sebelah sana. Keremangan malam membuat pandanganku kabur. Rey-kah itu?&lt;br /&gt; Sambil memainkan gelas berisi Cosmopolitan yang tinggal separuh, aku terus memandangnya lekat-lekat. Ada Rey di sana. Bukan, itu bukan Rey. Iya, itu Rey dengan pacar bintang sinetronnya itu!&lt;br /&gt;Aku berbisik kepada Andre, sambil menunjuk ke arah yang aku maksud. Andre menggeleng. &lt;br /&gt;Ia menepuk bahuku sambil tertawa, “Kamu sakit, Tinka!”&lt;br /&gt; Malam terus bergulir. Kami pindah tempat. Kali ini ke Embassy. Sebetulnya, kami sama sekali tak punya maksud untuk barhopping. Tapi, mukaku yang cemberut dengan pandangan mata kosong itu membuat Andre dan Reza harus melakukan sesuatu. &lt;br /&gt; Ladies’ Night di Embassy penuh dengan orang kelojotan mengikuti irama musik yang berdentam. Biasanya, aku sangat menikmati musik itu. Tapi, kali ini tidak. &lt;br /&gt;Aku mulai men-scan seluruh ruangan. Sosok Rey kembali datang. &lt;br /&gt; Jangan, Tuhan! Tapi aku merasa, aku memang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 September 2003, di kantor. Sudah empat bulan sejak aku putus dengan Rey. Aku mulai menghitung hari. Dan kini, aku panik. Entah kenapa, bayangannya terus menghantuiku. Hari-hari yang kulalui terasa begitu panjang. Aku sudah tak merasa lagi berapa proyek di kantor yang sudah aku kerjakan. Semua berlalu begitu saja. &lt;br /&gt; “Sudah dengar kabar dari New York?” tanya Andre malam itu. Sudah pukul 9 malam, tapi kami masih berada di kantor, dikejar deadline.&lt;br /&gt; “Belum.” Aku masih terpaku di depan komputer, menyelesaikan sebuah konsep kreatif untuk klien yang lain. &lt;br /&gt; “Sepertinya kita harus tangguhkan sebulan lagi.”&lt;br /&gt; “No problem.”&lt;br /&gt; “Tinka, aku tahu kalau proyek ini sangat berarti untukmu. Kenapa kamu tak peduli? Kamu ingin pindah lokasi? Paris? Barcelona? Maldives? Ouagadougou?”&lt;br /&gt; “Timbuktu sounds better to me.”&lt;br /&gt; Andre hanya geleng-geleng kepala sambil memandangku. Aku membalas pandangannya. What do you know about my feeling, Andre? Aku mendengar suara dari dalam hatiku sendiri.&lt;br /&gt; Terus terang, aku juga khawatir proyek ini terhambat gara-gara aku. Tapi kebetulan, principal belum memberikan jawaban tentang pemotretan yang seharusnya dilakukan di New York itu. Mereka memutuskan untuk menjadwal ulang. Sebaliknya tiba-tiba ada proyek lain yang datang. Masih dari klien yang sama, tapi dengan konsep berbeda. Artinya, kami akan pindah lokasi.&lt;br /&gt; Good. Because I didn’t want New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 September 2003, di apartemenku. Aku buru-buru memasuki lantai apartemenku yang terletak di lantai delapan itu. Dua kopor besar yang penuh dengan muatan itu kuseret pelan. Jalanku makin terseok-seok. Aku baru pulang dari Singapura, menghadiri acara peluncuran salah satu produk klienku.&lt;br /&gt;Seperti biasanya, apartemenku terasa kosong. Tak ada seorangpun di sana, kecuali ikan mas koki peliharaanku, Wanda, yang berenang-renang di dalam akuarium kecilnya. &lt;br /&gt;Aku segera mengecek answering machine. Tertera di layar, ada 17 pesan di dalamnya. Aku pun mendengarkan pesan satu persatu. Ada beberapa pesan dari orang tuaku. Selanjutnya, Mario. Mario. Mario. Dan masih Mario hingga pesan terakhir selesai aku dengarkan.&lt;br /&gt;Telepon berdering. Mario!&lt;br /&gt;“Halo Tinka, sudah pulang?”&lt;br /&gt;“Baru saja. Apa kabar?” aku menjawab dengan ogah-ogahan. Sebagian karena aku memang lelah selepas perjalanan ke luar negeri. Sisanya, aku tak tahu bagaimana harus menghadapi Mario.&lt;br /&gt;“Tadinya aku mau mampir ke apartemenmu. Makan malam yuk!”&lt;br /&gt;“Boleh. Aku tunggu jam delapan ya!” kataku melirik jam tangan. Saat itu pukul empat sore. Aku tak tahu mengapa aku menerima ajakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 September 2003, Starbucks Plaza Indonesia. Aku , Andre dan seorang AE dari kantor kami sedang duduk ngopi selesai meeting dengan klien di kawasan Sudirman.&lt;br /&gt; “Bagaimana Mario?” tanya Andre kepadaku. &lt;br /&gt;“Bagaimana apanya?” kataku balik bertanya.&lt;br /&gt; “Kabarnya kamu pacaran dengan Mario sekarang?”&lt;br /&gt; “Hus, kata siapa?”&lt;br /&gt; Andre, rekan kerja sekaligus sahabatku itu sama sekali tak tahu apa yang aku rasakan. Dia pikir, aku sudah melupakan Rey. Bahkan menurut dia, kisah cintaku dengan Rey bagaikan one night stand. Ketemu, kenalan dan tidur seranjang. &lt;br /&gt;“Enak saja, aku nggak one night stand!” ingin rasanya aku menggamparnya.&lt;br /&gt;“Buktinya, baru sebentar pacaran, langsung putus!” balas Andre. &lt;br /&gt;“Pacaran lima bulan itu bukan one night stand, tahu!”&lt;br /&gt;Aku tak tahu, lima bulan itu waktu yang lama atau tidak. Mungkin, tergantung dari mana memandangnya. Untuk orang yang serius, pacaran lima bulan itu bukan apa-apa. Belum cukup waktu untuk saling mengenal. Ibaratnya, bulan madu pacaran pun baru saja selesai. Buat orang seperti aku, lima bulan itu sudah lumayan. Hanya saja, pendapat umum itu mungkin mengandung kebenaran. Nyatanya, aku memang tak tahu apa-apa tentang Rey. &lt;br /&gt;“Ayolah Tinka, lupakan dia!” kata Andre. Di telingaku, bukan hanya pria gay itu saja yang bersuara. Rasanya aku mendengar suara lain dari dalam hatiku.&lt;br /&gt;Aku menggeleng.&lt;br /&gt;“Apa sih yang membuat kamu cinta mati begitu? Err, salah. Cinta buta!”&lt;br /&gt;“Dunno.”&lt;br /&gt;“Kamu fashion stylist, Tinka, harus punya kelas!”&lt;br /&gt;“Really?”&lt;br /&gt;“Dia kan playboy. Kelas kampung pula.”&lt;br /&gt;“I know.”&lt;br /&gt;“Dia kan pacaran dengan artis sinetron itu.”&lt;br /&gt;“Norak.”&lt;br /&gt;“Tuh, kan, kamu sendiri sadar.”&lt;br /&gt;Kami menghabiskan minuman yang tersisa, lalu bergegas pergi. Di tengah jalan, aku mampir di salah satu kios koran yang ada di basement plaza ini, beli majalah. Di sebelahku, seorang gadis remaja sedang membuka-buka sebuah tabloid hiburan. Sebuah artikel di tabloid yang dipegangnya menarik perhatianku. “Kami Segera Menikah!” kata judul artikel itu. Di bawahnya, terpampang foto seorang artis sinetron cantik bersama seorang pria. Aku kenal betul wajah itu. Rey! &lt;br /&gt;Aku berkunang-kunang. Aku mau pingsan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 Oktober 2003, di apartemenku, di hari saat cintaku mati. Sepulang kantor, Andre mampir ke apartemenku. Aku berjanji membuatkannya malam malam spaghetti dan almond pie sebagai dessert kebanggaanku. Sudah tiga minggu sejak peristiwa di Plaza Indonesia, tapi aku tak malu menjadi orang paling norak sedunia. Menangis dan meratap di pundak Andre. &lt;br /&gt;“Sebal, Ndre, sebal!” begitu yang selalu aku katakan kepada Andre. Aku rasa, kupingnya sekarang sudah kebal. &lt;br /&gt;“You look like a hell, Tinka.” &lt;br /&gt;“Biarin.”&lt;br /&gt;“Kamu mau aku menemanimu malam ini?”&lt;br /&gt;“Aku tak mau one night stand denganmu!” teriakku meraung. Persis anak kecil yang kehilangan boneka Barbie-nya. &lt;br /&gt;“Giling!”&lt;br /&gt;Saat Andre pulang, aku pasang musik keras-keras. Lagu Creep keluar. Aku berteriak lagi. Mataku tertumbuk pada tabloid hiburan terbitan baru kepunyaan Andre. Ia lupa membawanya pulang. Aku pikir, mereka memang hebat. Selalu nomor satu dalam menyajikan berita. Apalagi, berita yang menyakitkan seperti ini: perkawinan Rey dengan si bintang sinetron. &lt;br /&gt;Suara Thom York si vokalis Radiohead masih menyayat hati. &lt;br /&gt;I am a creep. Kepalaku berputar-putar. I am a weirdo. Makin lama, kepalaku makin pusing. What the hell am I doing here? Dadaku pun sesak. I don’t belong here. Aku mual dan ingin muntah. I don’t belong here. Tuhan, aku tak tahan lagi!&lt;br /&gt; Lagu  itu pun silam, tapi kata-katanya masih tertinggal di kepalaku. Aku jadi makin muak dengan diriku sendiri. Kenapa aku buang waktu begitu banyak? Pelan-pelan, aku merasakan cinta itu sekarat. Sebentar lagi mau mati. &lt;br /&gt;Tak sampai sedetik, cinta itu pun berakhir. Mati. Mati. Mati. &lt;br /&gt;Dan aku merasa, hari pembebasanku telah tiba. Inilah hari yang paling aku tunggu-tunggu dalam hidupku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang lebih membuatku bahagia selain melihat cintaku mati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111934713689245298?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111934713689245298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111934713689245298' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934713689245298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934713689245298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/di-hari-saat-cintaku-mati.html' title='Di Hari Saat CIntaku Mati'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111934704409580349</id><published>2005-06-21T02:43:00.000-07:00</published><updated>2005-06-21T02:44:04.096-07:00</updated><title type='text'>ANDAI BOLEH KUCURI PACARMU</title><content type='html'>Tentang Saya dan Malika&lt;br /&gt;Sejak bertemu empat tahun silam, saya dan Malika bagaikan tak terpisahkan. Dialah sahabat wanita saya satu=satunya. Padahal, kami punya kepribadian yang berbeda. Lihat saja, Malika sangat tomboy. Gemar berdandan ala pria (saat saya intip lemarinya, tak ada sepotong rok pun ada di dalamnya) dan rambut cepak yang jabrik karena gel.  Sedangkan saya, sedikit mirip tante-tante. Itu yang selalu dikatakan Malika tentang saya.  Memperhatikan penampilan, berambut panjang berombak, senang pakai aksesori, dan tak make-up tak pernah ketinggalan di wajah saya. Tapi, apapun yang terjadi, kami adalah sahabat. &lt;br /&gt;Saat ada masalah datang, tak ada orang lain yang saya percayai selain Malika. Setiap hari, kami selalu bertemu atau smenelepon. Atau, setidaknya berkirim SMS. &lt;br /&gt;Malika bekerja di sebuah perusahaan advertising, sebagai Senior Copywriter. Not bad untuk seorang gadis berusia dua puluh tujuh tahun. Tiga tahun bekerja di sana, Malika masih betah saja. Setahu saya, gajinya sangat menggiurkan. Malika selalu berterus terang kepada saya setiap rupiah yang ia terima dari perusahaannya. Makanya ia belum mau hengkang dari sana. &lt;br /&gt;Sedangkan saya, bekerja sebagai fashion editor freelance. Sebentar di sini, sebentar di sana. Terkadang dapat tangkapan besar, terkadang dapat seadanya. Buat orang yang agak boros seperti saya, ini terkadang membahayakan. ”Biarin saja, toh ada kamu,” begitu sanggah saya kepada Malika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami Punya Prinsip&lt;br /&gt;Dalam pertemanan, saya selalu memegang prinsip ini: pantang pacaran dengan bekas pacar sahabat. Atau, berebut laki-laki dengan sahabat. Untuk beberapa waktu, prinsip ini memang selalu saya jalani. Berdua, dengan Malika, sahabat saya, kami sepakat mengukuhkan prinsip ini dalam diri masing-masing.&lt;br /&gt;“Pokoknya, persahabatan kita tak boleh dirusak oleh laki-laki!” kata saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111934704409580349?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111934704409580349/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111934704409580349' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934704409580349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934704409580349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/andai-boleh-kucuri-pacarmu.html' title='ANDAI BOLEH KUCURI PACARMU'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111934699495957126</id><published>2005-06-21T02:41:00.000-07:00</published><updated>2005-06-21T02:43:14.966-07:00</updated><title type='text'>CINTA-CINTA YANG BERSERAKAN DI 9BIS RUE GEOFFROY  MARIE</title><content type='html'>Paris, awal 2003&lt;br /&gt;Hari masih menunjukkan pukul delapan pagi saat aku terbangun. Di luar, hari masih terlihat gelap gulita. Cuaca terlihat suram, warnanya abu-abu. Di Paris, tak ada matahari, apalagi di bulan Januari. Sebaliknya, justru udara dingin menusuk tulang. Aku ingin menyelimutkan diri lagi di bawah selimut tebal yang memenuhi seluruh tempat tidur. &lt;br /&gt;Dengan gerakan refleks, aku menjulurkan tangan, mencari-cari sesuatu di sisi tempat tidur yang lain. Tak ada siapa-siapa. Aku hanya berpikir dalam hati, Nicolas sudah tak ada di sana. Dengan ogah-ogahan, aku meraih mantel kamar yang tergeletak di sisi tempat tidur. Mataku masih sayup-sayup saat berjalan ke dapur. “Bonjour, Natasha,” ujar Jean-Philippe yang duduk di kursi makan sambil menyeruput teh hangat yang dihidangkan di dalam bowl berwarna hijau bergambar ikan. Salah satu kebiasaan orang Prancis adalah minum teh hangat di dalam bowl. “Mau teh?” tanya Jean-Philippe sambil menyodorkan sebuah bowl ke depanku.&lt;br /&gt;“Oui, merci, tapi tidak dengan bowl,” kataku sambil mencari mug kesayanganku. Aku ingin minum teh dengan normal, berulang kali begitu kataku kepada teman-teman Prancisku ini setiap pagi!&lt;br /&gt; “Nicolas sudah pergi?” tanyaku sambil mengoleskan mentega di atas croissant hangat yang baru keluar dari microwave. &lt;br /&gt; “Il est parti a sept-heure et demi. Katanya, ada pertemuan penting dengan board of director,” ujar Jean-Philippe. Suara Jean-Philippe memberi penekanan, betapa pentingnya meeting itu. Buatku berarti, sebegitu pentingnya sehingga ia bahkan tak meninggalkan ciuman di pipi seperti yang ia lakukan setiap pagi? Dinginnya pagi itu membuat aku sudah tak bisa berpikir lagi. &lt;br /&gt; “Kamu sendiri, kok tidak ke kantor?” tanyaku.&lt;br /&gt; “Aku ada interview dengan orang sehabis makan siang. Berarti aku bisa lebih santai,” Jean-Philippe mulai membuka-buka koran pagi yang ada di depannya. “Kamu tidak kuliah?”&lt;br /&gt; “Sebentar lagi aku berangkat,” kataku sambil bangkit menuju ke kamar mandi. Brr, dinginnya udara pagi membuatku malas mandi. Toh, kebanyakan orang Prancis juga tak mandi di saat musim dingin. Tinggal cuci muka dan pakai parfum, beres sudah! &lt;br /&gt; Aku memutar kran air panas dan mulai membasuh badanku. Ingin rasanya aku larutkan semua noda yang ada di tubuh ini,  mengalir dan hilang dari penglihatan. Dengan gerakan cepat, aku berusaha menggosok tubuhku kuat-kuat. Hilang, hilanglah semua noda yang kami perbuat tadi malam! Aku berteriak keras-keras. &lt;br /&gt; Jean-Philippe berlari menghampiriku. “Ada apa Natasha?” tanyanya dari balik pintu.&lt;br /&gt; “Non, rien. Tak ada apa-apa. Airnya terlalu kepanasan!” ujarku berbohong. &lt;br /&gt; Suara Jean-Philippe masih melekat di telingaku. Kali ini, aku pun berusaha membersihkan kuping dengan cotton buds. Berpuluh-puluh cotton buds kulempar ke keranjang sampah. Dua puluh cotton buds hanya untuk membersihkan dua kuping di kiri dan di kanan? Tuhan, apa yang terjadi padaku?&lt;br /&gt; Sepuluh menit adalah waktu yang aku perlukan untuk berdandan. Sambil menyambar mantel, syal dan topi, aku pun bergegas pergi. &lt;br /&gt; “Au revoir Natasha,” suara Jean-Philippe terdengar sekelebat di kuping, meneriakiku dari atas jendela apartemen. Aku sudah berada di pinggir jalan menuju ke stasiun metro Grands Boulevards.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paris, summer 1998&lt;br /&gt; Suatu ketika di awal musim panas, empat tahun yang lalu, aku tiba di Paris. Begitu lulus SMA, aku memutuskan untuk datang ke kota romantis ini. Tak berbekal bahasa Prancis sedikitpun, aku nekad untuk kuliah di sini. Buatku, semuanya bisa dipelajari! Untung saja, lewat kursus singkat selama tiga bulan, aku dinyatakan lulus bicara bahasa Prancis. Aku beruntung bisa diterima kuliah S1 di jurusan Komunikasi  di salah satu universitas tertua di Eropa, Sorbonne. &lt;br /&gt; Tahun-tahun pertama di Paris, aku tinggal di sebuah kamar kecil yang disewakan untuk umum. Waktu itu aku kurang beruntung tak bisa dapat kamar di asrama mahasiswa. Selalu dapat waiting list. Akhirnya, dengan dibantu oleh beberapa teman, aku mencari tempat tinggal. Apartemen terlalu mahal buat kantong mahasiswa. Rata-rata, aku harus mengeluarkan  sekitar 3000 francs (mata uang Prancis saat itu) untuk sepetak apartemen dengan satu kamar. Untuk menghemat biaya, aku pun rela tinggal di sebuah kamar sebesar 14 meter persegi yang aku bayar dengan harga 1850 francs di rue Saint Jacques, tak jauh dari kampus. Lumayan juga untuk menghemat biaya. Padahal, kalau dipikir-pikir, ayahku yang direktur sebuah perusahaan di Jakarta, tak akan keberatan menyewakan apartemen yang lebih layak untukku. Tapi aku tak mau. Aku ingin belajar susah.  &lt;br /&gt; Tiga tahun berlalu, aku sudah hampir selesai kuliah. Tak disangka, aku ketemu lagi dengan seorang teman lama, di sebuah pesta yang diadakan oleh seorang teman.&lt;br /&gt; “C’est toi, Natasha?” tanya pria itu.&lt;br /&gt; “Siapa ya? Apakah kita pernah ketemu?” tanyaku dengan bingung, di tengah dentam suara musik di sana-sini.&lt;br /&gt; “Ini aku, Nicolas. Masih ingat nggak? Aku pernah bertemu denganmu di Jakarta,” ujar Nicolas.&lt;br /&gt; “Oh iya, aku ingat. Tapi itu sudah lama sekali,” untung saja, memoriku cepat kembali. Suatu ketika di Jakarta, aku berpapasan dengan Nicolas di sebuah lift di gedung perkantoran tempat perusahaan ayahku berkantor. Di gedung yang sama, ada sebuah perusahaan Prancis yang berkantor. Saat itu, Nicolas sedang melakukan proyek di sana selama beberapa bulan. Kebetulan, setiap kali aku berkunjung ke kantor ayahku, aku selalu berpapasan di sana. Saling melempar senyum, lalu berbincang beberapa kali di lift, dan satu kali kencan makan siang. Itu saja. Setelah itu, aku tak pernah lagi mendengar beritanya. Katanya, proyek yang dikerjakannya sudah selesai, dan ia sudah kembali ke Paris.  Tak disangka, tiga tahun terasa begitu cepat, dan kembali aku bertemu dengannya.&lt;br /&gt; “Kamu sedang apa di sini?” tanya Nicolas.&lt;br /&gt; “Aku hampir selesai maitrise. Kuliah di Sorbonne,” ujarku.&lt;br /&gt; “Bagus!”&lt;br /&gt; “Kamu sendiri?” tanyaku.&lt;br /&gt; “Aku sudah pindah kerja. Sudah dua tahun ini aku bekerja perusahaan minyak,” sambil menyebutkan nama perusahaan minyak besar yang berkantor di La Defense.&lt;br /&gt; Nicolas adalah seorang whiz kid sekaligus superman. Bayangkan saja, pada usia muda ia sudah lulus kuliah dari HEC (Haute Ecole de Commerce), sebuah sekolah bisnis yang sangat bergengsi di Prancis. Tak banyak orang yang bisa masuk sekolah ini, atau lulus dengan cepat dengan nilai yang cemerlang! &lt;br /&gt; Waktu berlalu, aku jatuh cinta pada Nicolas. Dan Nicolas juga tergila-gila padaku. “Wanita Indonesia selalu memenuhi pikiranku. Kunjungan singkat ke Jakarta selama enam bulan tak cukup membuatku pacaran dengan wanita Indonesia,” katanya sambil mengelus rambutku.&lt;br /&gt; “Gombal ah,” ujarku.&lt;br /&gt; “Ca veut dire quoi?” tanyanya tak tahu arti kata yang aku ucapkan. &lt;br /&gt; “Rien, hanya becanda,” ujarku. &lt;br /&gt; Setahun pacaran dengan Nicolas, aku pun mengucapkan selamat tinggal kepada kamar mini berukuran 14 meter persegiku di rue Saint Jacques.&lt;br /&gt; “Kamu tidak keberatan jika Jean-Philippe tetap tinggal bersama kita?” tanya Nicolas saat aku memutuskan untuk hidup bersama dengannya. &lt;br /&gt; Bagaimana aku bisa berkata tidak? Soalnya, Jean-Philippe adalah sahabatnya yang paling dekat. Selama beberapa tahun terakhir, mereka berbagi apartemen di daerah Paris 9. Masa aku tega untuk mengusir Jean-Philippe yang baik hati itu dan mencari tempat tinggal lain.&lt;br /&gt; “Tak apa, tak ada masalah untukku,” kataku dengan arif. &lt;br /&gt; Hari itu, aku pun resmi menjadi penduduk apartemen yang terletak di 9bis rue Geoffroy Marie. Sebetulnya, tak ada perubahan yang begitu berarti. Semua setting tetap pada tempatnya. Nicolas dan aku  menempati kamar yang ada di depan. Kamar yang jauh lebih besar dari kamar kosku itu masih lapang untuk berdua. Bahkan ditambah dengan harta bendaku pun masih ada ruang lega untuk bermain bola sodok!  Sementara itu, Jean-Philippe sendirian dan aman tenteram menempati kamar yang lebih kecil yang ada di belakang. Hanya itu saja. Sisanya, ruang apartemen terdiri dari ruang duduk tempat nonton televisi dan dapur, plus satu kamar mandi yang kami pakai bersama-sama. &lt;br /&gt;Dan bercinta dengan Nicolas adalah satu hal yang paling aku tunggu-tunggu setiap malam. Pelukannya yang hangat, ciuman lembutnya di seluruh tubuhku terasa membuat seluruh ketakutanku pada hidup hilang begitu saja. Percaya atau tidak, hampir setiap malam kami habiskan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Capek kuliah?” tanya Nicolas melihat aku melempar diktat kuliah di atas sofa. &lt;br /&gt;“Cape dong!. Untung saja, dua bulan lagi kuliah habis. Setelah magang, aku baru menulis tesis.”&lt;br /&gt;“Oh iya, bagaimana dengan magangmu?”&lt;br /&gt;“Tuh, syukur saja ada Jean-Philipp e yang membantu,” ujarku sambil melirik Jean-Philippe yang berprofesi sebagai wartawan di sebuah harian nasional terkemuka.&lt;br /&gt;Malam itu, mereka berdua pulang lebih cepat dari aku. Maklum, aku harus pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan-bahan kuliah. Saat aku kembali ke apartemen, kudapati mereka berdua sedang duduk di ruang tengah. Nicolas sedang nonton saluran bola kegemarannya, dan Jean-Philippe sedang membaca koran (apa saja ia baca, maklum jurnalis!)&lt;br /&gt;“Wah, kamu KKN ya?” tanya Nicolas.&lt;br /&gt;“Enak saja!” kataku sambil menghambur ke pelukan Nicolas.  Matanya masih terpaku pada televisi.&lt;br /&gt;“Iya, itu kan namanya KKN, mempergunakan teman untuk dapat tempat magang,” ujar Nicolas sambil berteriak, saat tim bola favoritnya memasukkan bola ke gawang lawan. Badanku ikut sedikit terlempar. Laki-laki memang begitu, hanya sepak bola yang jadi perhatiaannya!&lt;br /&gt;“Makan malam apa hari ini?” tanyaku sambil bangkit dan menuju ke kulkas.&lt;br /&gt;“Terserah Nyonya Rumah,” ujar dua orang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111934699495957126?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111934699495957126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111934699495957126' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934699495957126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934699495957126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/cinta-cinta-yang-berserakan-di-9bis.html' title='CINTA-CINTA YANG BERSERAKAN DI 9BIS RUE GEOFFROY  MARIE'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111934583878010885</id><published>2005-06-21T02:23:00.000-07:00</published><updated>2005-06-21T02:23:58.783-07:00</updated><title type='text'>BANGUN TIDUR KUTERUS MANDI...</title><content type='html'>Setiap pagi, saya selalu butuh perjuangan berat untuk mengalahkan kantuk ini. Saya tak mau datang terlambat lagi ke kantor!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bangun pagi, kuterus mandi. Tidak lupa menggosok gigi...” Masih ingat lagu dari masa kanak-kanak ini? Setiap pagi, melodi ini selalu terngiang di kepala. Bukan apa-apa, soalnya saya punya masalah susah bangun. Lagu ini pun saya jadikan mantra setiap pagi. Terkadang membawa hasil, tapi tak jarang gagal!&lt;br /&gt;05.40. Sinar matahari mulai menyelinap di kisi jendela. Dengan sekuat tenaga, saya berusaha bangkit. Tapi, udara dingin pagi makin membuat saya ingin terbenam ke dalam selimut tebal. Apalagi, jika sedang bermimpi indah. Sayang kalau harus terputus begitu saja! &lt;br /&gt; 06.00. Krrringggg..., tiba-tiba weker berdering. Sialan, maki saya dalam hati. Pukul enam masih terlalu dini untuk bangun! Gedubrak, terdengar suara weker yang mendarat dengan sukses di lantai. Sambil mengantuk, saya melirik jam. Tolong Tuhan, saya masih ingin melanjutkan mimpi indah ini beberapa menit lagi! &lt;br /&gt; 06.55. ‘Gangguan’ kembali datang. Kali ini, ponsel berdering (saya punya kebiasaan menghidupkan ponsel 24 jam sehari). “Siapa menelepon pagi-pagi?” pikir saya dengan kesal. Tanpa melihat nomor yang tertera di layar, saya langsung hang up. “Mengganggu orang tidur saja,” pikir saya sambil kembali meringkuk di balik selimut. &lt;br /&gt; 07.00 WIB. Panggilan ketiga pun datang. Kali ini, si pembantu mengetuk kamar dan menyediakan sarapan. Mau tak mau, saya bangun juga. Tiba-tiba saya ingat, ada janji meeting penting dengan klien pukul sembilan! Saya pun berjuang keras melawan kantuk yang mendera. Brrr, kini saya menggidik membayangkan dinginnya air di pagi hari. Lambaian selimut tebal kembali mengoda. &lt;br /&gt;07.30. My God! Tak ada waktu lagi, saya harus segera membasuh diri! Bagaimana mungkin saya tiba di kantor tepat waktu? Saya membayangkan ritual yang harus dijalani. Pilih baju dan pakai make-up. Lalu, perjalanan ke kantor yang normalnya butuh waktu 45 menit. Tapi kalau tiba-tiba macet, bagaimana?&lt;br /&gt; 07.45. Saya keluar dari kamar mandi, dan mulai mengobrak-abrik isi lemari. Memilih baju pun tak perlu pakai mikir lagi. Yang penting, asal warnanya tak saling nabrak! Lima belas menit kemudian, acara pilih baju selesai. Kini tinggal poles wajah! Mengingat jarum jam terus berdetak, saya tak bisa terlalu lama menghabiskan waktu di depan kaca. &lt;br /&gt;08.15. Saya sudah dalam perjalanan ke kantor. Untung saja lalu lintas lancar. Sekali-sekali, mobil berjalan merambat. Tak apa, biasanya juga selalu begitu. Saya melirik ke jam. Masih banyak waktu sebelum jam sembilan!&lt;br /&gt;09.00. Thank God, saya tiba dengan selamat di kantor dengan nafas tinggal satu-dua. Stres membuat saya terengah-engah! Sekretaris di kantor menyambut dan memberi sinyal kalau para tamu sudah menunggu. “Maaf Ibu, tadi pagi saya menelepon. Sekedar memastikan kalau Ibu punya janji dengan klien pagi ini,” kata sekretaris saya. Rupanya dia yang melakukan wake-up call untuk saya. Kasihan, usahanya gagal total, karena tak mempan kepada saya. &lt;br /&gt;09.05. Telat lima menit dari jadwal yang ditetapkan, saya menuju ke meeting room untuk menemui rombongan klien. Sederet bos penting juga sudah berada di sana. Dengan penuh percaya diri, saya langsung membuka ‘peralatan’ andalan, sejumlah file dan disket materi kerja. Setelah pencet-pencet tombol keyboard, saya pun bersiap memulai presentasi. Alamak! Sedetik kemudian, saya pucat pasi. Materi presentasi saya raib, kosong melompong! Ke mana perginya? Saya tak tahu. Mungkin waktu mengerjakan file tadi malam, saya lupa tak save dengan benar. Hasilnya, bisa ditebak sendiri!&lt;br /&gt;Sejak peristiwa itu, saya jadi kapok setengah mati. Insiden itu memang hanya terjadi sekali. Tapi, seluruh perjalanan karier saya jadi taruhannya! Sekarang saya percaya, suksesnya hari kerja dipengaruhi oleh situasi pagi yang Anda alami. Jadi, jangan biarkan detik demi detik berlalu, menit demi menit di pagi hari sia-sia terlewati. Saya berjanji, tak mau lagi telat bangun pagi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111934583878010885?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111934583878010885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111934583878010885' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934583878010885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934583878010885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/bangun-tidur-kuterus-mandi.html' title='BANGUN TIDUR KUTERUS MANDI...'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111934579138126883</id><published>2005-06-21T02:22:00.000-07:00</published><updated>2005-06-21T02:23:11.383-07:00</updated><title type='text'>Together We are Stronger</title><content type='html'>Percaya atau tidak, semangat nasionalisme masih berkibar hingga kini. Setidaknya, di rumah kontrakan kami.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sejak dua tahun lalu, kami hidup bak the melting pot di sebuah rumah kontrakan di Jakarta Selatan. Jangan salah, konsep ini tak hanya ada di Amerika. Di rumah kami, semua penghuni berasal dari suku dan etnis yang berbeda. Sebut saja Ratih yang datang dari Surabaya. Orangnya ekspresif, blak-blakan, dan sering mengeluarkan kosa kata yang kurang ‘melodius’ di telinga. Meski begitu, dia teman sejati yang bisa diandalkan! Penduduk lain lagi, Rita, berasal dari Sumatra Utara. Berbeda dengan tipikal sifat Batak yang keras, gadis ini lembut sekali. Gaya bertuturnya halus, hatinya pun penuh ketulusan. Penduduk lain di rumah kami, Mariska, berasal dari antah berantah. Setiap kali ditanya berasal dari etnis mana, ia selalu bingung menjawab. Soalnya, ada banyak darah yang mengalir di tubuhnya. Bulgaria-Armenia dari pihak ibu, dan Jawa-Bali dari pihak ayah. Cukup membingungkan bukan? Yang jelas, hidungnya yang mancung membuat kami selalu memanggil Mariska si Indo. Penduduk terakhir rumah ini, saya, juga termasuk golongan pendatang. Tak jauh, soalnya saya hanya berasal dari kota tetangga, Bogor. &lt;br /&gt; Well, meski punya latar belakang berbeda, kami tak pernah mempermasalahkan isu keanekaragaman hayati ini. Di rumah ini, semua etnis disambut dengan senyum lebar. Tanpa pandang bulu. Agaknya slogan Bhinneka Tunggal Ika selalu hidup di sini. Percaya atau tidak, ada gambar burung garuda tergantung di satu sudut rumah kami. Tadinya, gambar ini memang hanya untuk menutup dinding yang bolong. Tapi setidaknya, setiap hari kami melihat gambar berikut teks Pancasila di bawahnya!&lt;br /&gt; Teman-teman yang pernah bertandang ke rumah kami kerap berkomentar mengenai hal ini. Katanya, kami adalah the last people yang masih punya rasa nasionalisme di Jakarta ini. Saya hanya tertawa. Memang betul, tapi selama ini we’re fine with that. Mau tahu kenapa? Karena meski berbeda latar belakang, semua hidup tenang dan damai di rumah cagar budaya ini. Kami tak pernah mempertentangkan perbedaan. Soalnya, kebersamaan jauh lebih penting untuk dipikirkan. Apalagi saat masalah sedang menimpa. Rasanya tak ada yang lebih melegakan selain punya teman-teman yang setia! &lt;br /&gt;Misalnya saja, saat saya terkapar dua minggu di rumah sakit karena tifus, teman-teman sibuk mengurus saya yang tak berdaya. Mulai dari menemani hingga menyuapi makan. Contoh lain, kala si Indo bermurung durja lantaran diputus pacar, kami sibuk menghibur. Termasuk menyediakan berkotak-kotak tisu untuk menyeka airmatanya! Saat kartu ATM Ratih kebobolan hingga tak bersisa, kami cukup toleran tak menagih setoran uang sewa bulanan. Nah, waktu Rita punya masalah diskriminasi jender di kantor, kami pula yang sibuk menyusun strategi perangnya!  &lt;br /&gt;Buat kami, perbedaan itu indah. Hidup jadi tak pernah monoton. Bahkan justru lebih semarak oleh tradisi dan perilaku yang beraneka rupa itu. Buat saya, mempelajari kebiasaan dan mengamati pandangan orang lain adalah edutainment yang sebenar-benarnya. Memperkaya wawasan dan membuat pikiran lebih terbuka. Bisa dibilang, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” bukan lagi sekedar peribahasa yang hanya harus dihafalkan seperti saat SD. Dalam kehidupan nyata, semua itu ada artinya. Meski di luar sana banyak yang masih memperdebatkan perbedaan, kami tak pernah ambil pusing. Karena dari dulu sampai sekarang, hanya ada satu yang kami rasakan. We are living in harmony.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111934579138126883?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111934579138126883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111934579138126883' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934579138126883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934579138126883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/together-we-are-stronger.html' title='Together We are Stronger'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111934566985423538</id><published>2005-06-21T02:16:00.001-07:00</published><updated>2005-06-21T02:21:09.856-07:00</updated><title type='text'>Secarik Catatan Harian Di Sebuah Kafe</title><content type='html'>Hidup itu penuh anugerah. Nikmati dan biarkan keindahannya mengalir dalam setiap hembusan nafas Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hampir setiap malam, saya selalu mampir di sebuah kedai kopi bernuansa Prancis bernama Mon Dieu. Tanpa bermaksud sok kebarat-baratan, bagi saya hanya secangkir cappuccino yang bisa mengurai kembali otak yang ruwet setelah seharian bekerja. Setiap kali, saya selalu memesan menu yang sama. Sepotong quiche lorraine bertabur keju dan daging asap. Ini adalah pelampiasan yang paling menyenangkan untuk mengakhiri jam-jam menegangkan di tempat kerja. &lt;br /&gt; Saat itu, Mon Dieu tak begitu dipenuhi banyak orang. Mungkin saya yang datang kelewat awal, atau Jakarta yang diguyur hujan deras membuat orang malas keluar. Padahal, biasanya kafe ini tak pernah sepi pengunjung. Nama kafe yang kental dengan nuansa spiritual ini memang sedikit melenceng dari kaidah nama kafe yang biasanya gemerlap. Mon Dieu berarti “My God”. Saya mengira, mungkin pemiliknya ingin agar pengunjung kafenya selalu ingat pada Tuhan. Asumsi kedua, “My God” bisa berarti beberapa macam. Sebagai ekspresi rasa kaget, harapan, kebahagiaan, bahkan kesedihan. Semuanya bercampur. Namun bagi saya, Mon Dieu adalah tempat yang bisa membuat lega saat semua beban terlepas. Seperti hari itu,  saya direcoki klien yang super bawel. Belum lagi bos yang mencak-mencak tanpa sebab. Mungkin istrinya sedang merengek minta perhiasan Bvlgari, tapi si bos sedang bokek. Selain itu, pekerjaan di kantor mengalir tiada henti. Sepertinya saya kolam besar yang bisa menampung semuanya! Saat hari berakhir, saya justru ingin cepat-cepat hengkang dari kantor. Saya butuh udara segar yang bisa menyegarkan lagi pikiran yang mendadak keruh ini. &lt;br /&gt; Saat memasuki kafe, saya berpapasan dengan seorang wanita yang baru saja beranjak dari tempat duduk favorit saya. Sebuah meja di pojok dengan penerangan sedang. Tak terlalu terang, tapi juga tak kelewat temaram.  Muka si  cantik berusia pertengahan 20-an itu tertutup oleh rambutnya yang awut-awutan. “Kasihan, pasti ia sedang mengalami bad hair day,” pikir saya sambil menarik kursi. Begitu duduk, mata saya langsung tertumbuk pada sehelai kertas yang teronggok di meja. Pasti milik si wanita tadi.&lt;br /&gt; Meski sudah berusaha menghalau rasa sok ingin tahu rahasia orang, mata ini begitu tergoda untuk mengintip isi kertas penuh coretan tadi. Rupanya, tulisan-tulisan itu adalah catatan harian si gadis.  &lt;br /&gt;“Saya benci spaghetti. Saya tak mau makan makanan Italia lagi atau berhubungan dengan segala sesuatu yang berbau Italia,” tulis kalimat itu. Sejenak saya tertegun. Tapi otak saya langsung bekerja. Ah, mungkin wanita itu tadi pesan spaghetti, lalu teringat pada si pacar orang Italia yang meyakitinya. &lt;br /&gt;“Saat jalan-jalan di mal, saya benci melihat pasangan bahagia yang bergandengan tangan,” kata kalimat berikutnya. Saya langsung berpikir, wanita itu pasti sedih karena tak pernah punya kesempatan menikmati indahnya hari Minggu jalan-jalan dengan pacar. &lt;br /&gt;“Saya benci diri saya sendiri karena selalu melakukan keputusan yang salah,” ujar kalimat ‘benci’ yang ketiga. Saya pun membatin menterjemahkan kalimat itu. Saya rasa, gadis itu berulang kali melakukan kesalahan yang sama. Sudah tahu pacarnya brengsek, tapi ia memaksa untuk terus mencintainya.&lt;br /&gt;“Saya benci saat merasa sedih. Apalagi jika tak ada yang menemani,” ini adalah kalimat terakhir, tapi begitu bermakna. Kembali saya berkata dalam hati, kasihan wanita yang sendirian dan kesepian itu.&lt;br /&gt;Entah bagaimana, kalimat-kalimat ‘benci’ itu begitu mengena di hati saya. Setiap orang di dunia ini punya masalah. Berat atau ringan, seringkali semua tergantung dari cara Anda menanganinya. Saat sendirian, sudah pasti Anda ingin ditemani. Di kala persoalan datang berjibun, terkadang terbersit rasa tidak percaya diri. Saat hati dihadapkan pada banyak pilihan, ketidak tahuan bisa membawa Anda pada pilihan yang salah.  Namun, semua kejadian selalu diciptakan dengan dua sisi bak mata uang. Punya sisi terang dan sisi gelap. Tergantung dari bagaimana Anda menyetel lampunya. &lt;br /&gt;Setiap orang yang punya masalah seharusnya tahu bagaimana mengatasi hatinya. Bagi wanita itu, mungkin secarik kertas adalah tempat curhat yang bisa membuat dirinya terbebas dari beban pikiran. Sedang saya, stres yang datang bertandang selalu saya tendang ke dalam cangkir cappuccino. Pelan-pelan saya mulai memahami arti yang tersirat dalam tulisannya. Dengan hati-hati, saya lipat kertas kumal itu dan menyimpannya di saku.&lt;br /&gt;Saya pun menyeruput capuccino yang masih tersisa di dasar cangkir. Sementara potongan terakhir quiche lorraine masuk ke mulut berikut setiap remahannya. “Maafkan saya, quiche lorraine. Malam ini bukan kamu yang membuat pikiran saya jernih kembali,” batin saya sambil meraba lipatan kertas dalam saku.&lt;br /&gt;Tiba-tiba, si wanita berambut awut-awutan muncul di pintu. Sambil berjalan cepat, ia melangkah masuk dan mencari si manajer kafe. Raut mukanya sudah tak sekusut tadi. Sedikit senyum menghiasi sudut bibirnya. Apakah ia datang untuk mencari catatan pribadinya? Saya tak tahu. Tapi dalam hati saya ingin memanggilnya dan berkata, “Isn’t life so beautiful, Mbak? Cintai dan nikmatilah hidup!”&lt;br /&gt;Namun ucapan itu hanya sampai di pangkal tenggorokan. Sang gadis sudah menghilang. Sementara di sini saya berharap. Mon Dieu, semoga saja ia telah tahu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111934566985423538?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111934566985423538/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111934566985423538' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934566985423538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934566985423538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/secarik-catatan-harian-di-sebuah-kafe.html' title='Secarik Catatan Harian Di Sebuah Kafe'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111934544391423027</id><published>2005-06-21T02:16:00.000-07:00</published><updated>2005-06-21T02:17:23.916-07:00</updated><title type='text'>KETIKA SAYA BELAJAR MEMBACA</title><content type='html'>Pepatah “Buku adalah jendela dunia” memang bukan isapan jempol belaka. Banyak orang telah membuktikannya. Dan juga saya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Suatu ketika, seorang rekan Cosmo datang berbisik kepada saya. Rupanya ia ingin menceritakan rahasia terbesarnya. Sebetulnya, wanti-wanti ia berpesan agar tak bercerita kepada siapa-siapa. “Sudah hampir dua tahun saya tak pernah membaca,” ujar Imelda (karena sesuatu hal, namanya sudah disamarkan). &lt;br /&gt; Mungkin buat sebagian orang, ini adalah masalah sepele. Tidak membaca? Mungkin Anda heran, bukankah membaca adalah salah satu aktivitas yang paling gampang dilakukan? Well, dengar dulu penjelasannya. Katanya, saking sibuknya bekerja, ia lupa segalanya. Maklum, kariernya sedang ke langit ketujuh. Jadi, berbagai langkah ia tempuh untuk mempertahankan prestasi. Alhasil, waktu yang tersita tak menyisakan semenit pun untuk membaca. Wah, wah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca memperkaya jiwa&lt;br /&gt; Mendengar keluh kesah Imelda, saya jadi teringat masa kecil dulu. Suatu ketika, saya juga pernah punya hobi membaca. Hampir semua saya punya, mulai dari Lima Sekawan hingga Sidney Sheldon. Juga, komik Nina dan Tintin turut menghiasi koleksi. Tak ketinggalan, beberapa karya sastra para sastrawan dunia. Herannya, saat waktu berlalu, bukannya bertambah, koleksi saya mengendap begitu saja. Teronggok berdebu, mirip benda kuno koleksi museum.  &lt;br /&gt; Perlahan, saya mulai mengerti apa yang sedang terjadi. Gaya hidup kota besar jadi penyebabnya. Kalau dulu toko buku jadi tempat tujuan nomor satu, sekarang sudah tergantikan dengan toko baju. Apalagi kalau ada sale dan baru gajian. Kalap tak karu-karuan! Hingga akhirnya, seakan saya tersadar ada sesuatu yang hilang. Tak sengaja, saya kembali melangkahkan kaki ke toko buku. Rasanya begitu lama saya tak lagi menikmati enaknya pilih-pilih buku. Satu persatu jalinan kalimat dalam buku pun saya cerna. Entah apa yang terjadi, saya terasa terbawa ke alam yang berbeda.  Sebuah dunia dalam tebaran kata-kata! Satu persatu buku-buku di depan mata saya lahap habis. Ada semacam kerinduan saat imajinasi melayang-layang. Memang benar, rasanya jiwa ini jadi makin kaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca itu gampang dilakukan dan perlu&lt;br /&gt; Meminjam istilah tempo dulu, kita semua tahu: membaca itu gampang dilakukan dan perlu. Bayangkan saja, Anda bahkan tak perlu modal apa-apa, selain buku yang akan dibaca. Anda bosan menunggu dalam antrian? Seharusnya tak perlu terjadi! Saya jadi ingat seorang rekan Cosmo yang lain yang kerap membawa buku kecil berbentuk saku ke dalam tasnya. “Ini obat sakti penghalau rasa jemu!” katanya. &lt;br /&gt; Saya juga teringat, saat kuliah di manca negara, saya melihat kutu buku  ada di mana-mana. Kala menunggu, waktu tak terbuang dengan percuma. Lebih baik untuk baca buku! Juga di dalam subway atau bis, buku adalah teman yang paling setia (meski tak dapat duduk dan tetap terus berdiri, baca jalan terus!). Saya kembali ingat, perpustakaan dan toko buku ada di mana-mana. Bukannya menyalahkan fasilitas yang ada di negara sendiri, tapi jendela dunia di sini memang kurang terlalu lebar terbuka. &lt;br /&gt; Indahnya melihat dunia dalam lembar-lembar berhiaskan huruf membuat saya sadar. Apalagi membaca kan sangat gampang dilakukan! Hasilnya pun nyata terlihat: memperkaya wawasan dan juga pikiran. Tekad pun saya tanamkan dalam hati: saya mulai kembali belajar membaca.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111934544391423027?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111934544391423027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111934544391423027' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934544391423027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934544391423027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/ketika-saya-belajar-membaca.html' title='KETIKA SAYA BELAJAR MEMBACA'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111934535868989539</id><published>2005-06-21T02:15:00.000-07:00</published><updated>2005-06-21T02:15:58.690-07:00</updated><title type='text'>HEY MAN, GIMME A WAY!</title><content type='html'>Macet di jalan memang selalu menyebalkan. Tapi meski stres, haruskah Anda melupakan etika berkendara di jalan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di Jakarta, kemacetan sudah jadi pemandangan sehari-hari. Tak pagi, siang, sore, bahkan hingga menjelang tengah malam, macet terjadi di mana-mana. Apalagi saat high season: menjelang jam masuk dan jam bubar kantor. Lihat saja, jalan-jalan di Jakarta jadi lautan mobil. Semua tumpah ruah di sana! &lt;br /&gt; Buat Bianca, 29 tahun, rekan Cosmo yang berprofesi sebagai konsultan keuangan, kemacetan juga jadi santapan sehari-hari. Untuk mencapai kantornya di bilangan Kuningan, Bianca yang tinggal di Jakarta Selatan ini harus melewati Jalan Warung Buncit. Padahal, jalan ini termasuk salah satu pusat macet di ibukota republik ini. Tapi, apa boleh buat, Bianca tak punya pilihan lain. Alhasil, setiap pagi setidaknya satu jam ia habiskan di jalan ini. Tapi, jadwal rutin ini bisa molor jika ada bonus kemacetan. Entah karena kecelakaan yang terjadi, atau mobil mogok di tengah jalan. Nah, kalau sudah begini, Bianca hanya bisa pasrah. Lalu lintas di Jakarta memang tak pernah bisa diramal!&lt;br /&gt; Pagi itu, dengan berteman setumpuk CD, kaset dan sekantong permen, Bianca mulai menyusur jalan raya Warung Buncit. Saking akrabnya dengan jalan ini, ia sudah hapal apa yang akan terjadi. Benar saja, pemandangan macet sudah terhampar di depan mata. Di depannya, mobil-mobil hanya mampu merambat perlahan-lahan. Bianca melirik speedometer di panel depan mobilnya. Jarumnya mentok di angka 20km/jam! Mau lebih kencang? Tak ada cerita! Rasanya, mobil bergerak saja sudah harus membuatnya mengucap syukur!&lt;br /&gt; Teet, teet, teet! Tiba-tiba klakson yang berbunyi, entah dari mobil yang mana, membuat Bianca tak habis berpikir. Buat apa membunyikan klakson saat jalan lagi macet? Bukannya membuat mobil di depan bergerak maju, tapi malah bikin stres yang mendengar! Lihat saja, pengemudi yang membunyikan klakson itu hanya mampu duduk di belakang setir tanpa daya. Jalanan masih macet total! “Makanya, biarpun macet, jangan main klakson sembarangan,” kata Bianca dalam hati. Sepertinya, pengemudi itu, dan juga pengemudi-pengemudi lain yang gemar membunyikan klakson, memang perlu tahu sedikit etika berkendara!&lt;br /&gt; Waktu terus berjalan. Tapi, kondisi macet tak juga berkurang. Malah tambah parah! Selama bermenit-menit, mobil Bianca tak semeterpun berpindah tempat. Ada apa gerangan? Tak lama kemudian, Bianca menemukan biang keroknya. Sebuah mobil mogok teronggok begitu saja di pinggir jalan! Sepertinya, mungkin sudah semalaman di sana. Tak ada sopir di dalamnya, tak ada segitiga pengaman yang memberi tanda. Hey man, ini jalanan, bukan tempat parkir! Terpaksa Bianca harus melakukan sedikit manuver untuk menghindari mobil yang nangkring sembarangan itu. &lt;br /&gt; Seratus meter lagi, Bianca tiba di persimpangan. Dari jauh, lampu hijau terlihat masih menyala. Tak heran, mobil-mobil pun berlomba menginjak pedal gas dalam-dalam. Ingin mendapat jalan selagi lampu masih hijau! Mendadak Bianca kelimpungan. Dari samping kiri dan kanan, mobil-mobil membabi buta memotong jalannya. Bianca yang berusaha setia berjalan di jalurnya itu hanya bisa mengumpat kecil. Berusaha disiplin di jalan itu ternyata susah! Soalnya, justru membuat pengemudi lain memanfaatkan kesempatan untuk sembarangan.&lt;br /&gt; Tiba-tiba lampu merah menyala. Citttt... beberapa mobil malang yang tak cukup beruntung menerobos lampu hijau mengerem mendadak. Mobil-mobil pun berhenti tanpa aturan. Ada yang lurus, ada yang bodinya sedikit miring karena berusaha ingin pindah jalur. Di sebelah sana, sebuah mobil keukeuh memasang lampu sein ingin belok ke kanan, padahal mobil itu jelas-jelas ada di jalur tengah. Kini Bianca jadi sama sekali tak tahu berada di jalur mana! Tak lama kemudian, lampu hijau menyala lagi. Kini, bagaikan arena mobil balap, mobil-mobil langsung memasang akselerasi sekencang-kencangnya!&lt;br /&gt; Setelah sejam merana terjebak macet, akhirnya perjuangan yang panjang ini berakhir juga. Tiba di kantor, Bianca menghela nafas lega. Stres di jalan raya telah menguras hampir separoh energinya! Ternyata, tak hanya polusi, jalan raya juga jadi biang keladi penyakit stres paling tinggi! Salah satu penyebab kemacetan itu, apa lagi jika bukan etika berlalu lintas yang sering terabaikan. Why can’t we behave for once?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111934535868989539?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111934535868989539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111934535868989539' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934535868989539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934535868989539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/hey-man-gimme-way.html' title='HEY MAN, GIMME A WAY!'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111934528415679776</id><published>2005-06-21T02:13:00.000-07:00</published><updated>2005-06-21T02:14:44.160-07:00</updated><title type='text'>Confession of A (Not So) Material girl</title><content type='html'>Ini pengakuan dari seorang cewek matre. Well, sebetulnya tak sematre yang Anda kira. Ada suatu hal yang membuatnya tak matre lagi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Buat beberapa orang, istilah cewek matre selalu berkesan negatif. Saya pun menganggapnya demikian. Suatu ketika, saya bertemu dengan seorang wanita yang langsung mencurahkan perasaannya kepada saya. Masalahnya, orang menganggap ia cewek matre yang harus dijauhi. Dengar saja ceritanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama saya Jenna, dan saya, sumpah mati, bukan cewek matre. Meski begitu saya punya reputasi berpacaran dengan pria-pria kaya. Well, bahkan bisa dibilang hampir semua pacar saya (dan semuanya sudah jadi mantan) adalah pria-pria kaya. Bukannya saya pilih-pilih. Tapi entah kenapa pria berduit memang lebih menarik daripada yang, maaf, miskin. Padahal, pacaran dengan pria kaya tak membuat tabungan saya bertambah. Itu juga yang membuat saya heran. Dari dulu sampai sekarang, saya hanya punya mobil butut dan masih tinggal di rumah kontrakan. Makanya saya tak pernah mau menyebut diri saya cewek matre. Tapi, pacaran dengan pria berduit memang asyik. Bikin hidup jadi makin hidup, itu kalau saya boleh mencontek tagline sebuah iklan rokok. &lt;br /&gt;Salah satu pacar saya datang dari keluarga pejabat. Bapaknya punya kedudukan super tinggi, uang sogokan lancar mengalir ke kantongnya.  Rumahnya tak bisa lagi dihitung dengan jari, apalagi mobilnya. Yang bikin saya senang adalah menunggu saat-saat dia datang ke rumah setiap Malam Minggu. Dari balik tirai rumah, saya biasanya intip dulu. Untuk melihatnya, malam ini dia menyetir mobil apa. BMW, Mercedez, Jaguar, Ferrari atau paling apes, Land Cruiser. Kalau dipikir-pikir, sederhana saja alasan saya pacaran dengan dia. Saya senang diajak keliling kota dengan mobil mewah. Itu saja. &lt;br /&gt;Putus dari dia (karena saya bosan mobil mewah), saya kencan dengan direktur sebuah biro perjalanan. Dia tak sekaya pacar sebelumnya, tapi pacaran dengan dia sama mengasyikkannya. Soalnya, saya sering dapat jatah tiket gratis jalan-jalan ke luar negeri. Siapa tak senang? Hanya dengan sedikit elusan, saya dapat tiket ke Australia. Mau pergi lebih jauh? Saya lakukan saja sedikit gerakan ‘hardcore’. Hasilnya, tiket ke Eropa sudah dikirim ke rumah saya. Bisa dibilang, minimal sebulan sekali saya melanglang buana. Senang juga, dan lebih senang lagi kalau dia bilang, “Honey, kamu pergi sendiri saja ya? Saya tak bisa menemani.” Setahun pacaran (dengan hasil 20 kali jalan-jalan ke luar negeri), saya putuskan saja cintanya. Saya sudah puas berkeliling dunia.&lt;br /&gt;Pacar berikutnya, anak konglomerat kaya yang juga pemilik istal kuda. Saat itu saya memang sedang tergila-gila berkuda. Tapi, tak banyak kuda bagus di Indonesia. Sewa saja mahal, apalagi beli. Untuk memuaskan hobi, saya pacarin si pemilik istal tempat saya latihan. Hasilnya, setiap hari saya boleh mengelus dan menunggangi kuda yang mana saja. Itu termasuk kuda kesayangannya, si Fast &amp; Furious dari Australia. Pacaran dengan si pemilik istal ini tak berlangsung lama. Saya jatuh tertimpa kuda dan memutuskan untuk berhenti berkuda saat itu juga. Sekembali dari rumah sakit, selesai sudah cinta saya pada si pemilik istal. &lt;br /&gt;Selanjutnya, saya pacaran dengan cowok berduit lain, pewaris bisnis barang-barang eksklusif. Ia kebagian ‘jatah’ mengelola beberapa butik yang berjualan merek-merek terkenal dunia. Mulai dari perhiasan hingga jam tangan. Tentu saja saya senang, soalnya ia kerap memberi hadiah perhiasan. Bulan ini saya dapat cincin solitaire yang besarnya segede biji duren. Bulan sebelumnya, saya dapat jam tangan bertabur berlian yang bikin mata silau kalau dipakai siang hari. Daftar ini masih panjang kalau diteruskan. Soalnya, koleksi perhiasan ini sudah bisa saya jadikan showroom toko sendiri. Beberapa bulan pacaran, saya bosan. Saya kembalikan semua barang pemberiannya, berikut ucapan “Adieu sayangku!”. Dan saya kembali miskin lagi. Makanya saya bilang, saya bukan cewek matre. &lt;br /&gt;Pacar selanjutnya? Hm, apa ya? Saya sudah lupa saking banyaknya. Yang jelas, semua pacar saya datang dari kalangan yang berbeda. Tergantung apa kegemaran saya saat itu. Untung saja, saya tak pernah tertarik berprofesi sebagai bintang layar kaca. Jadi hingga kini saya belum pernah mencoba memacari produser atau sutradara. &lt;br /&gt;Terserah apapun penilaian Anda, yang jelas saya bukan cewek yang memacari pria karena duitnya. Dan nama saya Jenna. Sekali lagi, saya bukan cewek matre seperti yang Anda kira.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111934528415679776?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111934528415679776/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111934528415679776' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934528415679776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934528415679776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/confession-of-not-so-material-girl.html' title='Confession of A (Not So) Material girl'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13837617.post-111934514117874082</id><published>2005-06-21T02:11:00.000-07:00</published><updated>2005-06-21T02:12:21.183-07:00</updated><title type='text'>BECAUSE THEY CARE ABOUT US</title><content type='html'>Kuping siapa yang tak panas saat menerima kritik? Dada Anda pasti meletup-letup karena ingin segera menyerang balik si pelempar kritik. Kenapa kritik selalu bisa menyentil bagian hati Anda yang paling sensitif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman pernah mengeluh kepada saya. Dia, sebut saja Kayla, bekerja sebagai seorang jurnalis di sebuah harian terkemuka di negeri ini. Meski masih muda usia, tapi pengalamannya tak bisa dibilang seumur jagung. Pikirannya sangat tajam dan kemampuan kerjanya amat patut dibanggakan. Singkat kata, teman saya ini memang sangat berbakat. &lt;br /&gt;Suatu ketika, ia datang kepada saya. Mukanya masam dan terlipat tujuh. Belum sempat saya bertanya, ia sudah angkat bicara, “Sebagai penulis, tak ada yang lebih menyakitkan selain mendapatkan kritik tentang tulisan yang dibuatnya.” Bisa ditebak, rupanya tulisan yang baru dimuat kemarin mendapat kritik pedas dari seorang pembaca. Setiap kata dalam ulasan itu dicerca habis-habisan, bahkan hingga ke titik dan koma. Yang jelas, kritik pedas sang pembaca membuat teman saya itu tak bisa tidur. Nelangsa. &lt;br /&gt;Ini baru satu cerita. Ada lagi pengalaman seorang teman yang lain, sebut saja namanya Rika, seorang business development manager. Seorang pekerja yang super rajin dengan berbagai ide brilian. Meski selalu stres dikejar target, tapi senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Hingga suatu saat, senyum itu hilang begitu saja. Rupanya sang bos baru jadi penyebabnya. Sebuah target besar yang sebetulnya sangat mustahil dilimpahkan begitu saja di atas pundak Rika. Celakanya, si atasan bukan seseorang yang cukup simpatik. Setidaknya itu yang terlihat di mata Rika. Bukannya bekerja sama dan saling mendukung, si atasan justru bagai musuh dalam selimut. Setiap kali ada ide dilontarkan, semuanya bagai berakhir di tempat sampah. Masih untung jika hanya sekadar ditolak (dan diminta revisi), tapi ini sekaligus pakai tambahan bumbu kata-kata pedas penuh kritik! Awalnya, Rika masih bisa menerima. Lama-lama, hati jadi panas juga!&lt;br /&gt;Kritik memang tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Mungkin Anda juga sering mengalaminya. Dikritik soal kerja, itu hal biasa. Atau, kritik tentang penampilan yang mungkin kurang sedap dipandang mata. Hanya saja, seringkali kritik datang semena-mena dan tidak pada tempatnya.&lt;br /&gt;Sebuah kritik memang bisa membangun atau memotivasi orang untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Tapi kritik juga bisa jadi pisau bermata dua. Kena kritik yang tak semestinya, bisa bikin Anda sedih dan hilang rasa percaya diri. Apalagi si pengkritik ternyata asbun alias asal bunyi. Tak tahu apa maunya. Siapa yang tak kesal mendengarnya?&lt;br /&gt;Seperti kedua sahabat saya di atas, bukan sekali dua kali saya menerima kritik. Tadinya, hati ini selalu merasa meletup-letup mendengarnya. Sebal dan tak terima! Hingga suatu ketika, saya tak sengaja membuka Cosmo edisi lama. Di situ, ada sepotong artikel yang membahas soal kritik. Setiap kata saya baca satu persatu, hingga saya tahu betul arti dan makna yang terkandung di dalamnya. &lt;br /&gt;Dari situ, sebuah kesimpulan pun saya dapat. Seberapapun pedasnya kritik yang diberikan, lebih baik ambil nilai positifnya saja. Apalagi, kritik dimaksudkan agar memicu Anda melakukan hal yang terbaik. Jadi, buat apa kata-kata pedas itu dimasukkan ke dalam hati? Rasanya, lebih baik saring dan pilah-pilah saja dengan cermat: mana kritik yang membangun, mana kritik yang asbun. Hasilnya, Anda bisa lebih lapang dada menerima kritik yang diberikan! Asal tahu saja, si pengkritik melontarkan komentar karena mereka sayang kepada Anda!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13837617-111934514117874082?l=maxetmoi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxetmoi.blogspot.com/feeds/111934514117874082/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13837617&amp;postID=111934514117874082' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934514117874082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13837617/posts/default/111934514117874082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxetmoi.blogspot.com/2005/06/because-they-care-about-us.html' title='BECAUSE THEY CARE ABOUT US'/><author><name>Max et Moi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03687939533864841462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
